MALAM TERAKHIR DI YOGYAKARTA

Bibir Joni menjelajah tubuh Arini mulai dari leher, dada, perut hingga bagian itu. Arini menikmati setiap aksi yang dilakukan oleh Joni kepada tubuhnya. Desah yang dimulai pelan berubah menjadi memburu tak beraturan. Arini menjambak rambut Joni keras tiap kali titik sensitifnya disentuh. Arini pun tak mau tinggal diam, dirinya mencoba menggapai batang keras milik Joni. Diremas dengan kuat oleh Arini, Joni pun tersentak kaget. Kemudian permainan mereka semakin liar, tindih-menindih, saling menggecarkan aksi satu sama lain yang mereka nikmati bersama.

Kepala Arini bersandar di dada kiri Joni. Dalam gelap, entah ke mana pandangan mereka satu sama lain. Mereka hanya ingin menikmati detik-detik yang tersisa di antara mereka berdua dengan hening tanpa kata-kata.

Hingga tiba-tiba, Arini memecah kesunyian.

“Besok-besok, kita akan melakukan ini lagi gak ya?” tanya Arini.

“Hmmm, gue gak tau dan gak bisa janji terhadap hal itu” balas Joni cepat.

Arini adalah sekretaris pribadi Joni. Sudah menjadi pekerjaan Arini untuk menemani Joni ketika bos-nya itu meminta untuk ditemani. Baik dari pertemuan dalam kota hingga ke luar kota. Umur mereka yang tak terpaut terlalu jauh, dan Joni merupakan pribadi yang supel dan gaul membuat hubungan kerja mereka seperti hubungan pertemanan.  

Sudah sebulan Joni dan Arini di Yogyakarta untuk mengurus pekerjaan, proyek baru yang sedang dikerjakan oleh kantor mereka. Pagi, siang, malam mereka habiskan bersama. Mulai dari urusan pekerjaan hingga mencari hiburan sejenak di kala penat. Mulai dari obrolan pekerjaan hingga obrolan tentang kehidupan mereka sehari-hari. Semakin kenal lah diri mereka satu sama lain.

Hingga suatu hari mereka saling curhat tentang kehidupan percintaan mereka. Permasalahan yang sedang mereka hadapi bersama pasangan masing-masing. Secara kebetulan, mereka berdua sedang mencoba menyelesaikan masalah dengan pasangan mereka. Permasalahan yang dihadapi masing-masing dari mereka sesungguhnya tidak lah berat, namun cukup menguras energi pikiran mereka. Dari obrolan-obrolan itu, Joni menemukan bahwa Arini adalah sosok wanita yang pemikirannya sangat dewasa. Dan Arini mendapatkan diri Joni adalah sosok pria yang sangat bijaksana. Keduanya menemukan bahwa lawan bicaranya memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh pasangan mereka saat ini.

Obrolan mereka berhenti di suatu titik. Dalam diam, bayangan pasangan mereka datang ke dalam pikiran mereka. Mulai lah mereka membandingkan pasangan mereka dengan lawan bicara mereka saat ini. Mereka diam hingga perjalanan pulang ke hotel.

Di dalam elevator menuju kamar, mereka masih diam. Hingga tiba-tiba secara sadar mereka memegang tangan satu sama lain. Saling menatap, lalu entah siapa yang maju duluan untuk kemudian mereka saling bercumbu. Ketika pintu elevator terbuka, Joni memimpin jalan sambil menggenggam tangan Arini menuju kamarnya. Arini mengikutinya tanpa ada penolakan.

Di dalam kamar, mereka pun melanjutkan ciuman di elevator tadi. Mereka berciuman sambil berjalan menuju ranjang. Dijatuhkan tubuh Arini secara pelan-pelan oleh Joni. Tangan Joni mulai bergerilya. Tangan kirinya meremas dada kiri Arini, sedangkan tangan kanannya membelai lembut paha Arini. Arini mencoba untuk melepas kancing kemeja Joni. Joni pun mulai membuka kemeja Arini, dan dalam sekali gerakan bra Arini pun lepas. Dalam sekian detik akhirnya mereka telanjang bersama.

Nafas mereka mulai tak beraturan. Perselingkuhan fisik antara Joni dan Arini pun masuk ke tahap utama. Joni bergerak pelan-pelan pada awalnya. Tiba-tiba sentakan ke arah Arini oleh Joni, membuat dirinya sedikit berteriak sambal mencengkram punggung Joni. Detik-detik berlalu, hingga mereka mencapai klimaks bersamaan.

Semenjak saat itu, Joni dan Arini walaupun memesan dua kamar hotel tapi mereka sebenarnya tidur seranjang. Itu semua dilakukan untuk menipu kantor mereka. Agar tidak ada kecurigaan apa pun terhadap mereka. Pagi sebelum berangkat untuk bertemu customer dan malam sebelum tidur, mereka melakukan perselingkuhan fisik itu tersebut hingga malam terakhir di Yogyakarta.

Kembali lagi di malam terakhir di Yogyakarta. Di ranjang itu mereka masih saling berpelukan. Sambal memikirkan kembali apa yang akan terjadi di kemudian hari. Ketidaktahuan mereka atas apa yang akan terjadi tertutupi oleh rasa puas dan nikmat yang mereka rasakan di malam terakhir itu. Mereka pun kembali diam, hening hingga mereka melayang kembali ke Jakarta.

Di pintu kedatangan, telah menunggu sosok yang mereka kenal. Masing-masing adalah pasangan mereka. Joni dijemput oleh Tiara, yang beberapa hari lalu teleponnya selalu di-reject oleh Joni. Kangen, katanya sambal memeluk Joni erat. Sedangkan Arini dicium pipinya oleh pria berkumis bernama Elang. Ditanyakan apa kabarnya oleh Elang, Arini hanya membalas tersenyum.

Mereka saling melambaikan tangan mengucapkan perpisahan. Joni dan Arini bertatapan sejenak meski dari jarak yang jauh.

“Yuk kita ngobrol tentang masalah kita” ajak Joni kepada Tiara yang duduk di sampingnya di dalam taksi.

“Jangan dulu deh, aku mau melepas kangen dulu sama kamu. Kamu sudah tidak memberiku kabar dari beberapa hari lalu. Khawatir aku sama kamu. Kamu mungkin masih marah atas permasalahan yang belum tuntas ini, tapi aku mau memeluk kamu dulu hingga rasa khawatir dan rinduku terlenyapkan” jawab Tiara sambil memberikan pandangan memohon dan memeluk lengan tangan Joni.

Joni hanya membalas senyum kepada Tiara dan membiarkan lengannya tetap dipeluk oleh Tiara.

Aku tak tahu lagi apa yang terjadi antara Joni dan Arini. Apakah mereka masih melanjutkan perselingkuhan fisik tersebut atau menghentikannya. Muncul sebuah pertanyaan, apakah semua yang berhubungan dengan fisik tidak pernah berkaitan dengan hati?

Love yourself, kata orang-orang. Itu lah kenapa kita selalu mencari terus apa yang terbaik yang bisa kita dapatkan untuk diri kita. Bukankah setiap hari semesta ini selalu memberikan beberapa hal yang terbaik untuk bisa kita pilih. Hingga sesungguhnya, tiap hari pasti selalu saja ada yang terbaik untuk kita. Kenapa tidak love who you are saja? Mencintai diri kita saat ini, apa adanya diri kita dan apa yang ada pada diri kita saat ini.

RUN, YOU RUN!

Hari Minggu kemarin gue akhirnya bias ikut acara lari dengan jarak 10 Km. walau tidur hanya 2 jam, gue bisa sampai garis akhir dengan waktu 1 jam 40 menit. Dari acara kemarin gue merasa tambah yakin apa yang sudah gue yakini selama ini, filosofi lari. Apa itu filosofi lari?

Bersama satu orang teman gue mengitari area Ancol sejauh 10Km. beberapa hal terjadi dalam langkah lari kita. Di bawah ini adalah beberapa hal yang ingin gue sampaikan kepada kalian apa saja yang gue pelajari selama lari.

Tidak peduli sudah berapa jauh kalian lari, jangan pernah beraninya kalian berhenti begitu saja.

Teman gue sempat bertanya “Bai, ini udah berapa Km?”

“Gatau, yuk lari terus” jawab gue

Selama kalian belum melewati garis finish jangan pernah kalian berani untuk berhenti, bahkan untuk memikirkannya pun jangan. Ingat kalian sudah lari sejauh ini, kalian telah berkorban banyak di beberapa Km sebelumnya. Garis finish mungkin belum keliatan saat ini, tapi yakinlah bahwa garis finish itu ada di depan sana. jika kalian terus melangkah, garis finish itu akan semakin dekat.

Jaga dirimu, biarkan orang lari dengan cara mereka sendiri. Yang terpenting adalah kalian mencapai garis finish.

“Setidaknya kita tidak di urutan belakang ya Bai” ujar teman gue sambal ngos-ngosan.

Salah satu teknik berlari agar mencapai garis finish adalah menemukan tempo dan cara berlari kita sendiri. Ada yang bisa lari cepat, ada yang lari lambat. Tapi ingat, bahwa semuanya berlari menuju garis finish. Jika Lelah, turunkan tempo mu. Istirahat sebentar, tapi tetap gerakkan kaki mu itu. Kita harus sampai garis finish!

Lebih menyenangkan jika kita bisa mencapai garis finish bersama-sama.

Ini adalah pertama kalinya gue lari 10 Km. Walau awalnya optimis pasti bisa, tapi ketika sudah sampai garis finish ada sebuah pemikiran di benak gue.

“Mungkin gak ya kalo gue bisa lari 10 Km sendiri?”

Belum pernah mencoba itu. Tapi yang gue tau pasti bahwa sangat menyenangkan jika kita bisa finish bersama-sama.  Temukan lah orang yang bisa kalian ajak berlari bersama hingga garis finish.

Tidak peduli kalian lari 3 Km, 5 Km, 10 Km, half marathon, marathon semua orang punya tujuan yang berbeda-beda. Jika ada yang membalap mu, biarkan saja. Jika kamu melewati seseorang, tidak perlu dilihat. Semua orang punya kecepatannya masing-masing. Sekali lagi, yang terpenting itu sampai di garis finish. Karena, itu lah hidup.

WHY VEGAS OPEN 24 HOURS?

Jawabnya adalah karena manusia pada dasarnya memiliki sifat berjudi. Tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, hobi, jabatan, agama, orang kota, orang desa, penikmat bubur diaduk, penikmat bubur tidak diaduk, kita semua suka berjudi. Berjudi tentang kehidupan kita.

Di kala harus memilih sekolah negeri atau swasta, memilih jurusan Ekonomi atau Kedokteran, memilih buburnya diaduk atau tidak, memilih Rani atau Rina. Tidak jarang pilihan tersebut telah mengorbankan sesuatu yang besar. Semua pilihan yang akhirnya kita pilih pasti mengandung resiko yang harus kita tanggung di masa depan.

Di dunia ini tidak ada mesin waktu, kamu bukan Nobita, kamu tidak punya Doraemon. Sesal, bahagia, kesal, senang, sedih, gembira, susah, mudah semuanya tidak pernah bisa diramalkan di saat memilih pilihan-pilihan tersebut. Kita harus menjalani pilihan-pilihan kita tersebut. Terlanjur memang, tapi itu lah hidup kita. Berjudi terus setiap waktu.

Dan layaknya seorang penjudi. Ketika sudah menyelesaikan babak judinya, kita akan selalu memikirkan kembali pilihan yang telah kita ambil.

“Bagaimana jika aku memilih hadiah yang di kotak, bukan yang di gorden?”

“Bagaimana jika aku memilih menikah ketika aku sudah punya rumah dan mobil?”

“Seandainya buburnya tidak kuaduk, apakah rasanya seenak ini?”

Manusia, ketidakpuasan hatinya menggerogoti jiwa dan pikirannya.

Sudah lah kawan, semua pilihan sudah kita pilih. Kita harus hidup dengan pilihan tersebut. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah kaki dan hati yang lebih kuat dari sebelumnya. Kaki untuk menopang badan kita ini, agar tidak mudah jatuh atas segala cobaan yang menghampiri. Hati untuk tetap dapat kembali bangkit dari keterpurukan.

Yang perlu kita ingat adalah, tujuan kita. Pilihan yang telah kita ambil ini untuk menuju satu titik, satu tujuan. Ingat saja tujuanmu itu. Lihat terus tujuanmu itu, jangan sampai angin puyuh menutupinya.

Kita sudah pernah melewati banyak cobaan untuk sampai di titik ini, maka jika cobaan lain datang jangan lah menyerah. Jangan kau kecewakan dirimu yang dulu. Karena ini semua bukan untuk siapa-siapa, ini untuk kamu sendiri.

SHOULD BE US

Lagu Perfectly Lonely dari John Mayer mengalun merdu di antara bisingnya suara knalpot di telinga Joni. Dia sedang dalam perjalanan untuk membantu temannya, seorang wedding videographer. Kemarin Joni bekerja sebagai penjual bunga di tempat tantenya. Esok dia akan bekerja di bengkel Vespa milik pamannya. Kerja serabutan dijalani oleh Joni asalkan mendapat uang dan pikirannya bisa lepas dari bayang-bayang mantan pacarnya.

Semua orang yang sedang mengalami patah hati cenderung menyakiti dirinya sendiri, contohnya mendengar lagu patah hati. Tidak perlu menunggu hujan, walaupun musim kemarau ketika mendengar lagu patah hati, hati orang yang sedang patah hati akan banjir. Banjir dengan semua kenangan yang seharusnya dilupakan. Tapi apa lah daya, lagu patah hati akan selalu muncul tanpa permisi. Bahkan Cupid menertawai orang yang patah hati sambil memainkan Harpanya.

Sudah setahun berlalu, tapi Joni belum bisa bangkit tegak dari kenangan bersama sang mantan. Setiap tapak jalanan kota ini adalah saksi bisu dari kisah cintanya. Joni melamun ketika melalui salah satu flyover yang ada di kota ini. Salah satu tempat romantis yang sering kali dihabiskan dengan sang mantan ketika sore hari, menjemput senja.

Kalian hanya akan dapat melihat sepertiga wujud matahari, karena sisanya tertutup oleh gedung-gedung bertingkat. Cahaya matahari yang terpantul oleh kaca-kaca gedung tersebut dan ditambah air kali di bawah flyover menambah keromantisan sore kala itu, sungguh eksotis. Hanya Joni yang dapat membuat ke-eksotis-an senja di flyover setara dengan senja di kota Venice.

Joni adalah orang yang sederhana cenderung miskin. Tapi cintanya untuk sang kekasih, sungguh berlimpah hingga tidak ada habisnya. Kebahagiaan sang kekasih adalah prioritas utamanya. Apa pun akan dia lakukan hanya untuk sang kekasih. Selama sang kekasih bahagia, ia pun ikut bahagia.

Sebenarnya Joni sudah mulai kerja serabutannya ketika umur hubungan mereka baru dua bulan saja. Semua itu dilakukan agar ia dapat meminang sang kekasih. Agar tak ada lagi rindu untuk memeluk sang kekasih di malam hari. Agar ia dapat mencium wangi sang kekasih setiap pagi. Namun itu semua sudah menjadi angan-angan saja sekarang.    

Ketika Joni sudah sampai di acara pernikahan tersebut, ia langsung menuju temannya. Membantu membersihkan lensa, mengatur posisi kamera dan memastikan semua kameranya berfungsi dengan baik.

Tiba ketika acara mulai, Joni berada di belakang salah satu kamera yang merekam acara tersebut. Tiba-tiba Joni dikejutkan, bahwa sang pengantin wanita adalah sang mantan. Dilihatnya kembali dari lubang intip kamera tersebut. Dicobanya zoom in ke arah wajah sang wanita, dikucek matanya lalu  dilihat kembali. IYA, itu sang mantan!

Joni terduduk lemas di belakang kamera. Kepalanya pusing, semua kenangan dan usahanya selama masih pacaran hingga hari ini untuk melupakan sang mantan berkelebat lalu bertubrukan.

“Selama sang kekasih bahagia, ia pun ikut bahagia” sudah tidak berlaku lagi untuk Joni. Sungguh dirinya tidak bahagia melihat sang mantan tersenyum, tertawa dan memeluk beberapa temannya di atas panggung pelaminan.

Semua kenangan tersebut telah  berpendar di langit, menjadi abu yang tersisa hanya lah bau gosongnya. Ingin menjauh, tapi bau tersebut seperti mengejarnya.

That should be me, holding your hand
That should be me, making you laugh
That should be me, this is so sad
That should be me
That should be me
That should be me, feeling your kiss

-That Should Be Me by Justin Bieber-

SANG MATAHARI

Orang-orang berbaju putih berkumpul di depan sebuah rumah yang juga berwarna putih. Bendera kuning tertancap di atas pagar rumah tersebut. Lantunan zikir menggema dari dalam rumah. Kulihat beberapa orang sedang menahan sendu dan haru.

Aku mencoba menyelinap pelan-pelan menuju ke depan rumah di antara kerumunan orang-orang tersebut. Rumah itu bentuknya masih sama, masih seperti terakhir kulihat 10 tahun lalu. Pohon merambat menghiasi dinding rumahnya di sebelah kiri. Pohon mangga yang sudah tidak berbuah namun masih lebat daunnya.

Kucuri dengar obrolan orang di sekitar.

“Almarhum dulu yang membantu aku untuk menaklukan hati seorang wanita yang sekarang telah menjadi istriku” ujar seorang pria.

“Almarhum adalah tempat curhatku, kapan pun aku membutuhkannya, dia selalu ada” ujar seorang wanita yang berdiri di samping pria tadi.

Sebuah mobil besar dan mewah, berwarna putih datang. Seorang artis yang dikenal semua orang turun dari mobil tersebut. Aku mengenal dia, temanku dan almarhum. Kusampiri dirinya dan mengucapkan salam, kupeluk hangat dirinya.

“Apa kabar?” tanyaku.

“Saat ini, tidaklah baik. Sahabatku telah meninggalkan diriku dan dunia ini. Kepada siapa lagi aku harus mengadu atas semua permasalahanku?” tanyanya, entah kepada diriku atau itu pertanyaan monolog ke dirinya sendiri.

“Tuhan..?” jawabku sok bijak.

Dia tersenyum tipis, lalu melanjutkan berkata

“Apakah kau tahu bahwa dirinya adalah orang yang selalu menasihati diriku ini agar tidak terjerumus ke arah gelapnya dunia yang fana ini? Sampai sekarang, aku masih menganggap bahwa dirinya yang menjagaku untuk tetap lurus jalan ku, tetap menjadi manusia”.

Giliranku tersenyum tipis mendengarnya.

“Lalu bagaimana dirimu? Bukan kah kau sudah menetap di Singapura?” tanyanya padaku.

“Ya, baru beberapa jam lalu aku sampai”  jawabku.

“Pastinya hubunganmu dekat sekali dengan almarhum ya?” tanyanya lagi.

“Ya, dulu semasa sekolah, rumahnya adalah tempat pelarianku untuk setiap masalahku. Kamar almarhum menjadi seperti tempat pengakuan dosa dan masalahku, dan semua ujarannya seperti sang pendeta yang peduli dengan umatnya” ujarku sambil mengenang masa 10 tahun lalu.

“Almarhum juga lah yang memaksaku, menyemangatiku untuk ke luar negeri. Dia selalu bilang untuk aku percaya pada mampuku. Terjang semua badai yang mungkin ada, maka akan terkejutnya diri kita ketika berada di sisi satunya. Begitu katanya” tambahku sambil menahan haru.

~…~

Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Aku mencium wangi bunga Anggrek. Ibu almarhum memang dari dulu suka dengan bunga. Tiap hari bunga di rumahnya selalu segar, membuat rumahnya wangi alam.

Kudapati Ibu almarhum di tengah kerumunan orang-orang yang sedang menyampaikan bela sungkawa. Kita bertatapan dari jauh, lalu beliau memberi tanda agar aku mendekat kepadanya. Aku pun mendekat ke arahnya, kucium tangannya sambil berkata pelan menyampaikan bela sungkawaku. Beliau mengusap-usap kepalaku.

Dituntunnya aku untuk meninggalkan kerumunan di tengah rumah. Naik ke lantai dua. Aku rasa aku tahu ke mana aku akan dibawa. Sesuai dugaanku, aku dibawa ke kamar almarhum. Pintu kamar yang penuh stiker grup musik rock kesukaannya. Almarhum yang sangat kalem itu punya selera yang beringas juga.

Kami memasuki kamar almarhum. Ada perasaan yang berbeda jika kubandingkan dengan 10 tahun lalu. Kamar alamarhum kurasa tidak pernah sekelam ini. Ada sesuatu yang hilang dari kamar ini.

Ibu almarhum memberikan sebuah buku kepada ku. Bukunya tebal, sampulnya warna-warni. Ku buka lembarannya secara acak. Aku lihat kumpulan foto di dalamnya. Banyak foto yang kukenal dalam buku tersebut, namun juga ada yang tak kukenal. Yang pasti, di dalam buku tersebut terdapat banyak sekali foto.

Di suatu halaman kulihat fotoku terpajang di sana. Di dalamnya tersanding sebuah tulisan, cita-cita dan semua harapanku di masa lalu. Betapa terkejutnya aku, beberapa cita-cita itu ada yang masih aku ingat, beberapa tidak. Aku periksa kembali halaman per halaman. Semua isinya sama. Foto seseorang lalu di sampingnya adalah cita-cita mereka.

Baru aku mengerti, selama hidupnya almarhum menulis semua mimpi, cita-cita dan harapan semua temannya. Almarhum kemudian menyemangati teman-temannya agar dapat meraih itu semua. Almarhum memastikan perjalanan teman-temannya menuju cita-cita mereka, beliau menerangi jalan dari teman-temannya. Betapa takjubnya aku kepada almarhum, ada orang yang mau memberikan waktunya untuk kebahagiaan teman-temannya. Sungguh beruntung aku mengenal almarhum.

Layaknya matahari, begitulah almarhum. Sinarnya memberi semangat kepada diriku untuk berjuang dalam hidup. Ketika jauh pun aku tahu bahwa dia selalu bersinar, dia selalu ada untukku. Sekarang, istirahatlah kawan. Kau sudah melakukan lebih dari cukup. Biarkan aku menyimpan sedikit dari sinarmu. Sinarmu akan kusimpan selalu dalam hati ini. Menjadi pembakar jiwa ragaku.

HINGGA WAKTUNYA TIBA

Untuk kalian yang kakinya sedang berdarah-darah

Berjinjit, menahan perih

Jangan beraninya kau berhenti lalu menyerah

Langkahmu tinggal sedikit lagi

Untuk kalian yang matanya sudah mengantuk

Bangun, tetaplah bangun

Jangan sampai dirimu tertidur lalu terbuai mimpi

Cita-citamu sudah dekat

Istirahat sejenak, tapi jangan sampai kau sandarkan kepalamu terlalu dalam

Jangan pernah berhenti, hingga waktunya tiba

Aku akan selalu ada di sekelilingmu

Tangan dan bahuku siap memikul beberapa perjuanganmu

Tapi tolonglah kawan, jangan pernah berhenti

Jangan pernah berhenti, hinga waktunya tiba

Karena perjalananmu tinggal sedikit lagi

UNTITLED

Pagi ini gue bangun dengan kata-kata yang entah darimana datangya, tetiba saja berputar di otak gue. Apa yang akan kalian baca di bawah ini, adalah puisi seorang pria yang sedang jatuh cinta.

====================================================================

Kuingin peluk dirimu dari belakang

Melingkarkan lenganku di pinggangmu

Menaruh daguku di pundakmu

Menghisap semua aroma tubuhmu

Kita masuk ke sebuah dimensi waktu, di mana waktu tak terdefinisikan

Cinta datang dalam beragam bentuk

Cinta datang dalam gelombang elektomagnetik

Membuat denyut jantungku berdetak penuh irama

Cinta datang dalam bentuk ombak

Aku menikmati jatuhnya diriku ketika ombak cinta menerpaku

Cinta datang dihantarkan oleh sinar ultraviolet

Menerangi mataku dari kegelapan selama ini

Sebut aku lelaki penuh gombal

Tapi apalah dayaku yang tak bisa menahan gejolak ini

Aku..

Cinta..

Kamu..

CINTA SEORANG PRIA

Kawan, duduk lah lebih dekat denganku. Aku ingin bercerita.

Dahulu kukenal seorang pria. Tampan, berbadan gagah, wajahnya dipenuhi bulu halus rapi yang membuatnya tampak lebih berwibawa. Dan dari mulutnya kudengar sebuah cerita cinta. Cinta yang tak lekang oleh waktu.

Pria ini dahulu jatuh cinta oleh seorang wanita yang sangat amat cantik. Menjadi pujaan, rebutan dan kebanggaan bagi pria yang bisa menjadi pasangannya. Namun bisa menjadi sebuah kryptonite, kelemahan bahkan berhala bagi para pria yang jatuh cinta dengannya namun tak kesampaian.

Pria ini dahulu semasa sekolah adalah ketua OSIS dan juga kapten lapangan permainan bola basket. Setiap gerak-geriknya dalam memimpin rapat, tutur katanya yang lugas, tegas dan berwibawa membuat wanita hanyut dalam mimpi untuk bisa menjadi pasangannya. Setiap keringat yang keluar dari tubuhnya ketika bermain bola basket membuatnya tampak lebih gagah. Apalagi ketika dia memasukkan bola ke dalam keranjang, tanah akan bergetar karena seluruh wanita akan berteriak secara serentak. Tak ada wanita yang dapat menolak auranya. Begitu juga dengan wanita ini, wanita yang menjadi pujaan seluruh pria di sekolah tersebut pun jatuh hati kepadanya.

Sedangkan sang wanita adalah wanita yang cantiknya tiada tara, anggun, bahkan putri malu benar-benar malu jika melihatnya. Jika dia berjalan di lorong sekolah melewati segerombolan pria, maka gerombolan pria tersebut akan berhenti bercerita tentang pertandingan sepak bola semalam. Mereka akan memanfaatkan waktu yang sangat sedikit itu untuk mengagumi ciptaan Tuhan tersebut. Malaikat yang jatuh ke bumi, pahatan yang sungguh sempurna, presisi dari atas kepala hingga ujung kakinya. Sang pria ini pun tidak dapat berpaling dari kecantikan wanita tersebut.

Mereka pun mulai memadu kasih di saat kelas dua SMA. Cerita mereka sudah menjadi obrolan seluruh siswa-siswi hingga guru di sekolah tersebut. Dikatakan sebagai pasangan paling serasi. Cantik dan pintar, perpaduan yang pas.

Sengaja melewati kelas sang pujaan hati hanya untuk dapat melihat wajahnya walau sekilas, sebagai penyemangat pagi katanya. Mengeraskan suara ketika di depan kelas sang wanita tersebut agar wanita itu tahu dia ada di depan kelasnya. Berciuman di ruang OSIS ketika ruangan sedang sepi. Adalah semuanya dilakukan di masa-masa cinta remaja yang menggebu-gebu.

Banyak cobaan yang datang dalam hubungan mereka. Wanita-wanita iri yang membuat gosip, dan para pria yang ingin mencelakakan sang pria di dalam lapangan bola basket. Semua cobaan itu telah mereka lalui, mereka tetap menggenggam erat tangan satu sama lain. Cinta mereka kuat satu sama lain dan juga saling menguatkan. Bertahun-tahun mereka pacaran, hujan badai, hangatnya musim panas dilalui mereka berdua.

Hingga tiba suatu hari di mana keyakinan sang pria bertambah dan semakin yakin untuk menikahi sang wanita. Dilamarnya sang wanita di bawah rindangnya pohon Tabebuya yang bunganya berwarna kuning. Pohon indah yang tumbuh secara misterius di pinggir jalan kampung mereka.

Untuk dapat bertahan hidup di atas bumi yang terus berputar, sang Suami berwiraswasta. Membuatnya pergi dari satu kota ke kota lain. Sedangkan sang Istri menjaga rumah kontrakan mereka agar tetap bersih dan rapi. Masih sama seperti ketika pacaran dulu, mereka berdua bekerja sama dalam hubungan mereka.

Tepat di hari ulang tahun perkawinan mereka yang ke dua, sang Istri masuk ke kamar, melompat kegirangan sambil berteriak “AKU HAMIL”. Sang Suami yang sedang bersantai di atas kasur dengan refleksnya melompat dan melompatt terus, terkejut dan kegirangan. Setelah semua lompatan yang melelahkan itu, mereka berpelukan sambil mengucapkan syukur di dalam hati.

Kehidupan mereka berdua terus bahagia, bahkan semakin bahagia ketika anak bayi mereka yang berukuran kecil itu semakin besar dan tak terasa sudah 1 tahun umurnya.

Tidak ada yang bisa memprediksikan tentang suatu masa depan, kita hanya bisa berdoa untuk yang terbaik. Tak ada yang melihat sebuah kekurangan di dalam rumah tangga mereka, karena memang tidak ada. Atau, salah satu dari mereka sangatlah pandai dalam bersandiwara.

Kehidupan rumah tangga yang romantis itu harus berhenti secara cepat, tidak ada rambu-rambu peringatan. Jatuh begitu saja. Hilang, entah di mana. Hari Jumat, hari yang dianggap hari paling suci dari semua hari malah menjadi hari yang paling dikutuk bagi sang Suami.

Di hari itu, sang Suami yang baru saja pulang dari suatu kota untuk mengurus bisnisnya dikejutkan oleh rumahnya yang kosong dan sepi ketika ia memasuki rumahnya. Bukan karena tidak ada orang di rumahnya, namun lebih dari itu. Perabotan di dalam rumahnya pun tidak ada.

Sang Suami memanggil nama sang Istri, namun tak ada jawaban. Lalu beberapa detik kemudian ia mendengar suara bayi dari kamarnya. Diburunya suara itu. Ketika dia masuk kamarnya, betapa terkejutnya ketika sang bayi yang baru saja berumur 1 tahun beberapa hari lalu saat ini tergeletak di lantai dengan alas hanya beberapa koran usang. Siapapun yang melakukan ini pasti sudah menjual hatinya ke pedagang gelap hanya untuk mendapatkan barang mewah duniawi. Kejam, terlalu kejam.

Sang Istri sudah tidak dapat dihubungi, entah hilang kemana. Atau diculik oleh sebuah setan dari dunia gelap, doa sang Suami.

Siapapun yang menyia-nyiakan anaknya sendiri, sudah tak pantas untuk tinggal di bumi ini.

Sang Suami… tunggu, mungkin sudah sebaiknya aku mengganti dia kembali menjadi sang pria.

Sang pria, bangkit dari keterpurukannya dibantu oleh tetangga-tetangganya yang baik. Dalam proses bangkit, anaknya selalu dalam pelukannya. Memulai dari usaha kecil-kecilan hingga melamar ke perusahaan dilakukannya dengan niat itu semua untuk anaknya. Banyak perusahaan yang menolaknya, karena tidak mungkin seorang pria dapat mengurus pekerjaan dan anaknya dalam satu satuan waktu.

Namun, sesuatu yang indah itu memang butuh waktu. Butuh waktu yang tak terhitung, dan usaha yang tak berhenti.

Perjuangan sang pria untuk anak pertama, utama, dan satu-satunya akhirnya telah tercapai di usia senja, namun sayangnya harus berhenti di saat ini. Bukan karena sang pria menyerah, namun karena takdir menua yang tidak bisa dihindari setiap manusia. Jika kalian melihatnya dari sisi luar, kalian akan melihat mata yang penuh ambisi. Telapak tangan yang keras karena apa pun akan dia kerjakan walau mesti sendiri. Punggung yang tegap menunjukkan bahwa tidak ada yang dapat membuat dirinya jatuh, bahkan anging puting beliung sekali pun. Namun umur sel-sel di dalam tubuhnya tidak sekuat tekad di dirinya. Sel-sel dalam tubuhnya menolak untuk bekerja lebih keras lagi dari hari kemarin.

Kuingat detik-detik sebelum dia pamit dari dunia ini. Ia memanggil diriku untuk mendekat ke ranjangnya. Memberiku sebuah surat dan dompet pribadi miliknya.

“… hanya akan ada satu cinta di dunia ini untukmu. Carilah, dan jika sudah kau temukan, jagalah.”

Begitu pesan papa terhadap diriku sebagai anak pertama, utama, dan satu-satunya.

Di dalam dompetnya terdapat sebuah foto seorang wanita muda belia dan cantik. Kujamin ini adalah sang wanita itu. Dialah Ibuku. Sang wanita yang jatuh cinta kepada papa ku, yang kemudian mau dijadikan sebagai istrinya. Yang mengandung dan melahirkan diriku. Namun juga yang pergi meninggalkan diriku di atas tumpukan Koran bekas, seorang diri di rumah yang kosong. Wanita yang menghancurkan hati papa.

Entah kenapa, papa masih menyimpan foto wanita itu. Tidak sakit kah hatinya? Tidak ada dendam kah setitik pun untuk sang wanita di dalam dirinya? Entah lah. Tapi apa yang dilakukan papa mungkin telah menghancurkan teori bahwa pria itu berlogika, sedangkan wanita itu perasa. Karena jika dilihat dari foto sang wanita yang masih disimpan di dalam dompetnya, menunjukkan bahwa tidak ada logika dalam pria yang telah jatuh cinta.

CITA-CITAKU UNTUK IBU

Ketika muazin sedang bersiap untuk azan Subuh, mengetuk-ngetuk mikropon masjid, Budi sudah duduk tenang dan khusyuk di belakang sang muazin. Budi sudah rapi memakai baju kerjanya, celana olahraga abu-abu dan kaus putih polos. Dan tak lupa dia semprotkan pewangi ruangan beraroma jeruk inventaris masjid ke tubuhnya. Karena kata ustad, untuk bertemu Sang Maha Punya Segalanya kita harus rapi, bersih dan wangi. Budi mengingat kata-kata itu dan mengamalkannya.

Setelah solat Subuh selesai dan berdoa untuk memulai hari, Budi bergegas menuju ke sepeda yang dia sandarkan di gerbang masjid. Mengayuh dengan cepat, semangat dan penuh tenaga menuju rumah Sang Pemberi Gaji, Koh Along.

Sesampainya di rumah Koh Along, Budi meneriakkan salam sambil tersenyum kepada Koh Along. Koh Along hanya menunjukkan muka datar dan menunjuk ke tumpukan Koran di salah satu sudut rumahnya. Yang artinya, itu adalah jatah yang sudah disiapkan Koh Along untuk Budi antarkan ke rumah-rumah yang masih berlanggan media cetak di jaman serba elektronik ini. Entah apakah Koran itu untuk dibaca atau hanya untuk memukul kecoa yang tiba-tiba muncul dari bawah kursi.

Budi dengan sigap memasukkan Koran-koran tersebut ke tas Koran yang berada di dua sisi samping sepedanya. Dua sisi, dua komplek perumahan yang berbeda. Sudah tak perlu lagi dia melihat alamat pelanggan, dia sudah hapal di luar kepala. Setelah selesai dengan memasukkan Koran-koran tersebut, Budi pamit kepada Koh Along. “hmmm..” begitu jawab Koh Along.

Begitulah komunikasi Koh Along dengan Budi. Terlihat seperti sinis dan sombong, tapi sebenarnya Koh Along adalah orang yang baik. Beberapa kali Budi selalu mendapat gaji lebih di amplop-nya. Dia tak pernah tahu kenapa, karena Koh Along tidak pernah bicara dan menjelaskannya. Budi tetap menerimanya, dan beranggapan mungkin bonus yang dia dapatkan itu karena dia paling rajin dan paling pagi datang ke kantor dibandingkan pegawai lainnya.

Koh Along mendadak menjadi pendiam, malas bicara karena banyak orang yang sudah tidak mau lagi berlangganan Koran. Karena jaman ini semuanya sudah digital, pelanggannya pun beralih mengikuti jaman. Orang-orang yang masih berlangganan Koran di jaman ini memang patut diacungkan ibu jari, mereka masih memegang esensi membaca dengan mendengarkan suara kertas yang bergesekan, aroma kertas yang tak akan bisa digantikan oleh bau keringat ibu jari di telepon genggam..

Budi masih mengayuh sepedanya dengan semangat, mengantarkan Koran-koran itu satu-persatu ke rumah-rumah. Di suatu persimpangan komplek rumah, Budi berhenti dan memarkirkan sepedanya. Dia pun duduk di pinggiran trotoar sambil menusukkan sedotan kecil ke air mineral ukuran gelas yang tadi dia beli di warung dekat situ.

Dihisapnya air minum tersebut pelan-pelan, Budi sedang menunggu sesuatu. Tatapan Budi selalu ke rumah yang ada di depannya. Rumah bergaya tempo dulu, yang sering kalian lihat di film tahun 90-an. Garasi yang terbuka memamerkan dua mobil mewah, satu berjenis sedan dan yang satu lagi mobil yang berukuran sangat besar dan tinggi. Di  lantai dua ada balkon kecil dengan tanaman hias yang digantung. Budi selalu tersenyum melihat rumah itu ketika bayangan bahwa dia dan Ibunya tinggal di rumah itu muncul.

Gerbang rumah didorong oleh bapak-bapak setengah tua. Tak lama kemudian, pintu rumah pun terbuka. Seorang anak muda keluar mendorong motor gede produksi Inggris, dan menghidupkannya. Suara motor tersebut meraung-raung dengan halus. Dibersihkannya helm berwarna silver krom. Keren dan gagah sekali orang itu di mata Budi.

Bapak-bapak tua yang mendorong gerbang rumah menghidupkan mobil sedan dan membuka pintu belakang. Tak lama kemudian, bapak-bapak yang tidak terlalu tua, berdasi abu-abu dengan garis diagonal yang sangat simetris masuk ke kursi belakang mobil sedan tersebut. Sepertinya dasi itu dibuat oleh matematikawan yang sangat mengerti seni.

Seorang wanita yang sudah cukup berumur namun tetap cantik dan menawan di umurnya sedang berdiri di depan pintu sambil melambai kepada anak muda dan bapak-bapak tadi. Mulutnya sedang komat-kamit kepada mereka, lalu ditutup dengan senyum manis di wajahnya. Anak muda dan bapak-bapak tadi telah keluar dari garasi, lalu menghilang di tikungan ujung jalan komplek tersebut. Wanita tersebut pun masuk ke dalam rumah kembali, menutup pintu.

Budi berdiri dari duduknya, membuang plastik penutup air mineralnya. Gelas plastik bekas air minumnya ditaruh di sela-sela ban dan jok-nya. “reeeekkk…reeeekkk…..” suara gelas plastik yang beradu dengan ban Budi ketika dikayuh. Memang sengaja dilakukan oleh Budi agar sepedanya terdengar seperti motor gede tadi, jauh panggang dari api. Budi pun mengayuh sepedanya dengan elegan, meniru anak muda membawa motor gede tadi.

Jika orang kantoran punya ritual untuk minum kopi di tengah jam kerja untuk mengulur waktu, maka ini adalah ritual yang selalu dilakukan Budi, berkhayal tinggal di rumah yang besar dan bagus.

≠≠≠≠≠≠

Sudah menjadi kebiasaan Budi untuk mengaji setelah sholat Magrib. Dulu dia melakukan itu secara terpaksa, karena jika tidak mengaji maka almarhum Ayah-nya tak akan segan untuk menyeret dia ke masjid untuk mengaji bersama pak Ustaz. Namun sebelum itu, akan dipecutkan sabuk kulit panjangnya ke pantat Budi. Setelah menyeret Budi ke masjid, almarhum Ayah Budi akan duduk di belakang menunggu Budi selesai mengaji. Alah bisa karena terbiasa.

“Jika bukan kamu yang mengaji, siapa yang akan mengaji untuk kami, Bapak dan Ibu mu nanti jika sudah di akhirat?”. Begitu lah pesan setiap almarhum Ayah-nya marah ketika Budi tidak mau mengaji.

Sepeninggalan Ayah-nya, Budi menyadari betul dan memaknai arti pesan dari almarhum Ayah-nya. Jika kalian saat ini bersama Budi, duduk di sampingnya, mengaji bersama, maka kalian akan mendengarkan suaranya yang lirih, merindu dan mengadu. Siapa saja akan berhenti melakukan pekerjaannya untuk mendengarkan suara mengaji Budi, karena mereka tahu ada hati yang dilibatkan dalam setiap untaian ayat yang dibacanya.

≠≠≠≠≠≠

Selepas mengaji, Budi pulang ke rumah. Ibunya terlihat sedang menjahit di mesin jahit hadiah pernikahan dari almarhum Ayah-nya di tahun ke-10. Budi mencium tangan Ibu-nya, lalu menariknya ke kursi yang cuma ada satu-satunya di rumah itu. Kursi yang biasa diduduki oleh almarhum Ayah-nya. Budi menyebut itu adalah kursi raja.

“Sini dulu bu..”

Ibu Budi mengikuti kemauan anaknya dengan mengernyitkan dahinya, keheranan.

Budi lalu bercerita tentang ritual yang dilakukannya setiap pagi di tengah-tengah kesibukannya mengirim Koran. Dengan semangat yang tinggi dan gerak tubuh yang luwes, Budi menggambarkan apa yang selalu dia lihat. Ibu Budi masih mengernyitkan dahi-nya.

Setelah selesai bercerita tentang semua detil yang dia lihat, mulai dari rumah, bapak-bapak yang memakai dasi, anak muda yang membawa motor keren dan seorang wanita tua yang cantik dan menawan, Budi pun mendekat ke Ibunya, lalu Budi pun memeluk Ibunya.

Sambil berbisik pelan..

“Ibu.. hiduplah lebih panjang hingga aku bisa mewujudkan cita-citaku untuk Ibu, tinggal di rumah yang, besar, bagus dan indah. Sehat selalu ya bu.. supaya Ibu bisa menikmati cita-citaku untuk membahagiakan Ibu. Bu.. selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan sehat selalu.”

Kemudian, Budi pun mencium pipi dan kening Ibunya. Sang Ibu menahan haru, bibirnya bergetar. Di dalam hatinya mengucapkan “Aamiin”.

Di saat yang bersamaan, di luar sana langit gelap dipenuhi oleh bintang, bulan bulat penuh sedang memamerkan dirinya. Dan bintang pun jatuh, meninggalkan posisinya, menghilang untuk satu impian, satu cita-cita.

AYAM ATAU TELUR?

Ayam atau telur..?

Manakah yang lebih dulu ada..?

Ada yang beranggapan tanpa telur, tidak akan ada ayam

Tapi, darimana ada telur jika tak ada ayam?

Cinta atau Tuhan?

Jika Tuhan yang menciptakan cinta, apa kah berarti Tuhan sebelumnya tidak punya cinta?

Mana mungkin, Tuhan kan penuh cinta di dalam dirinya

Ya kan? bukan begitu?

Tapi jika cinta sudah ada di dalam diri Tuhan, siapakah penciptanya?

Apakah ada “Maha Tuhan” yang menciptakan “Tuhan” yang penuh cinta?

Pertanyaan pun akan berlanjut dan berputar terus hingga bang Toyib pulang ke rumah

Entah kapan..

Sering kali kita dihadapkan pilihan untuk memilih cinta atau Tuhan yang akan kita dahulukan

Dilematis..

Jika kau tak memilih Tuhan, maka cap kafir akan ada di kepala-mu

Pandangan yang tertuju pada-mu penuh dengan rasa jijik dan hina

“Cinta buta” begitulah sebutannya

Cinta membutakan-mu dari Tuhan, begitu kata mereka..

Namun, jikalau diriku ini boleh bertanya

“Jika bukan cinta yang menyatukan kita, lalu apalagi?”