UNTITLED

Pagi ini gue bangun dengan kata-kata yang entah darimana datangya, tetiba saja berputar di otak gue. Apa yang akan kalian baca di bawah ini, adalah puisi seorang pria yang sedang jatuh cinta.

====================================================================

Kuingin peluk dirimu dari belakang

Melingkarkan lenganku di pinggangmu

Menaruh daguku di pundakmu

Menghisap semua aroma tubuhmu

Kita masuk ke sebuah dimensi waktu, di mana waktu tak terdefinisikan

Cinta datang dalam beragam bentuk

Cinta datang dalam gelombang elektomagnetik

Membuat denyut jantungku berdetak penuh irama

Cinta datang dalam bentuk ombak

Aku menikmati jatuhnya diriku ketika ombak cinta menerpaku

Cinta datang dihantarkan oleh sinar ultraviolet

Menerangi mataku dari kegelapan selama ini

Sebut aku lelaki penuh gombal

Tapi apalah dayaku yang tak bisa menahan gejolak ini

Aku..

Cinta..

Kamu..

CINTA SEORANG PRIA

Kawan, duduk lah lebih dekat denganku. Aku ingin bercerita.

Dahulu kukenal seorang pria. Tampan, berbadan gagah, wajahnya dipenuhi bulu halus rapi yang membuatnya tampak lebih berwibawa. Dan dari mulutnya kudengar sebuah cerita cinta. Cinta yang tak lekang oleh waktu.

Pria ini dahulu jatuh cinta oleh seorang wanita yang sangat amat cantik. Menjadi pujaan, rebutan dan kebanggaan bagi pria yang bisa menjadi pasangannya. Namun bisa menjadi sebuah kryptonite, kelemahan bahkan berhala bagi para pria yang jatuh cinta dengannya namun tak kesampaian.

Pria ini dahulu semasa sekolah adalah ketua OSIS dan juga kapten lapangan permainan bola basket. Setiap gerak-geriknya dalam memimpin rapat, tutur katanya yang lugas, tegas dan berwibawa membuat wanita hanyut dalam mimpi untuk bisa menjadi pasangannya. Setiap keringat yang keluar dari tubuhnya ketika bermain bola basket membuatnya tampak lebih gagah. Apalagi ketika dia memasukkan bola ke dalam keranjang, tanah akan bergetar karena seluruh wanita akan berteriak secara serentak. Tak ada wanita yang dapat menolak auranya. Begitu juga dengan wanita ini, wanita yang menjadi pujaan seluruh pria di sekolah tersebut pun jatuh hati kepadanya.

Sedangkan sang wanita adalah wanita yang cantiknya tiada tara, anggun, bahkan putri malu benar-benar malu jika melihatnya. Jika dia berjalan di lorong sekolah melewati segerombolan pria, maka gerombolan pria tersebut akan berhenti bercerita tentang pertandingan sepak bola semalam. Mereka akan memanfaatkan waktu yang sangat sedikit itu untuk mengagumi ciptaan Tuhan tersebut. Malaikat yang jatuh ke bumi, pahatan yang sungguh sempurna, presisi dari atas kepala hingga ujung kakinya. Sang pria ini pun tidak dapat berpaling dari kecantikan wanita tersebut.

Mereka pun mulai memadu kasih di saat kelas dua SMA. Cerita mereka sudah menjadi obrolan seluruh siswa-siswi hingga guru di sekolah tersebut. Dikatakan sebagai pasangan paling serasi. Cantik dan pintar, perpaduan yang pas.

Sengaja melewati kelas sang pujaan hati hanya untuk dapat melihat wajahnya walau sekilas, sebagai penyemangat pagi katanya. Mengeraskan suara ketika di depan kelas sang wanita tersebut agar wanita itu tahu dia ada di depan kelasnya. Berciuman di ruang OSIS ketika ruangan sedang sepi. Adalah semuanya dilakukan di masa-masa cinta remaja yang menggebu-gebu.

Banyak cobaan yang datang dalam hubungan mereka. Wanita-wanita iri yang membuat gosip, dan para pria yang ingin mencelakakan sang pria di dalam lapangan bola basket. Semua cobaan itu telah mereka lalui, mereka tetap menggenggam erat tangan satu sama lain. Cinta mereka kuat satu sama lain dan juga saling menguatkan. Bertahun-tahun mereka pacaran, hujan badai, hangatnya musim panas dilalui mereka berdua.

Hingga tiba suatu hari di mana keyakinan sang pria bertambah dan semakin yakin untuk menikahi sang wanita. Dilamarnya sang wanita di bawah rindangnya pohon Tabebuya yang bunganya berwarna kuning. Pohon indah yang tumbuh secara misterius di pinggir jalan kampung mereka.

Untuk dapat bertahan hidup di atas bumi yang terus berputar, sang Suami berwiraswasta. Membuatnya pergi dari satu kota ke kota lain. Sedangkan sang Istri menjaga rumah kontrakan mereka agar tetap bersih dan rapi. Masih sama seperti ketika pacaran dulu, mereka berdua bekerja sama dalam hubungan mereka.

Tepat di hari ulang tahun perkawinan mereka yang ke dua, sang Istri masuk ke kamar, melompat kegirangan sambil berteriak “AKU HAMIL”. Sang Suami yang sedang bersantai di atas kasur dengan refleksnya melompat dan melompatt terus, terkejut dan kegirangan. Setelah semua lompatan yang melelahkan itu, mereka berpelukan sambil mengucapkan syukur di dalam hati.

Kehidupan mereka berdua terus bahagia, bahkan semakin bahagia ketika anak bayi mereka yang berukuran kecil itu semakin besar dan tak terasa sudah 1 tahun umurnya.

Tidak ada yang bisa memprediksikan tentang suatu masa depan, kita hanya bisa berdoa untuk yang terbaik. Tak ada yang melihat sebuah kekurangan di dalam rumah tangga mereka, karena memang tidak ada. Atau, salah satu dari mereka sangatlah pandai dalam bersandiwara.

Kehidupan rumah tangga yang romantis itu harus berhenti secara cepat, tidak ada rambu-rambu peringatan. Jatuh begitu saja. Hilang, entah di mana. Hari Jumat, hari yang dianggap hari paling suci dari semua hari malah menjadi hari yang paling dikutuk bagi sang Suami.

Di hari itu, sang Suami yang baru saja pulang dari suatu kota untuk mengurus bisnisnya dikejutkan oleh rumahnya yang kosong dan sepi ketika ia memasuki rumahnya. Bukan karena tidak ada orang di rumahnya, namun lebih dari itu. Perabotan di dalam rumahnya pun tidak ada.

Sang Suami memanggil nama sang Istri, namun tak ada jawaban. Lalu beberapa detik kemudian ia mendengar suara bayi dari kamarnya. Diburunya suara itu. Ketika dia masuk kamarnya, betapa terkejutnya ketika sang bayi yang baru saja berumur 1 tahun beberapa hari lalu saat ini tergeletak di lantai dengan alas hanya beberapa koran usang. Siapapun yang melakukan ini pasti sudah menjual hatinya ke pedagang gelap hanya untuk mendapatkan barang mewah duniawi. Kejam, terlalu kejam.

Sang Istri sudah tidak dapat dihubungi, entah hilang kemana. Atau diculik oleh sebuah setan dari dunia gelap, doa sang Suami.

Siapapun yang menyia-nyiakan anaknya sendiri, sudah tak pantas untuk tinggal di bumi ini.

Sang Suami… tunggu, mungkin sudah sebaiknya aku mengganti dia kembali menjadi sang pria.

Sang pria, bangkit dari keterpurukannya dibantu oleh tetangga-tetangganya yang baik. Dalam proses bangkit, anaknya selalu dalam pelukannya. Memulai dari usaha kecil-kecilan hingga melamar ke perusahaan dilakukannya dengan niat itu semua untuk anaknya. Banyak perusahaan yang menolaknya, karena tidak mungkin seorang pria dapat mengurus pekerjaan dan anaknya dalam satu satuan waktu.

Namun, sesuatu yang indah itu memang butuh waktu. Butuh waktu yang tak terhitung, dan usaha yang tak berhenti.

Perjuangan sang pria untuk anak pertama, utama, dan satu-satunya akhirnya telah tercapai di usia senja, namun sayangnya harus berhenti di saat ini. Bukan karena sang pria menyerah, namun karena takdir menua yang tidak bisa dihindari setiap manusia. Jika kalian melihatnya dari sisi luar, kalian akan melihat mata yang penuh ambisi. Telapak tangan yang keras karena apa pun akan dia kerjakan walau mesti sendiri. Punggung yang tegap menunjukkan bahwa tidak ada yang dapat membuat dirinya jatuh, bahkan anging puting beliung sekali pun. Namun umur sel-sel di dalam tubuhnya tidak sekuat tekad di dirinya. Sel-sel dalam tubuhnya menolak untuk bekerja lebih keras lagi dari hari kemarin.

Kuingat detik-detik sebelum dia pamit dari dunia ini. Ia memanggil diriku untuk mendekat ke ranjangnya. Memberiku sebuah surat dan dompet pribadi miliknya.

“… hanya akan ada satu cinta di dunia ini untukmu. Carilah, dan jika sudah kau temukan, jagalah.”

Begitu pesan papa terhadap diriku sebagai anak pertama, utama, dan satu-satunya.

Di dalam dompetnya terdapat sebuah foto seorang wanita muda belia dan cantik. Kujamin ini adalah sang wanita itu. Dialah Ibuku. Sang wanita yang jatuh cinta kepada papa ku, yang kemudian mau dijadikan sebagai istrinya. Yang mengandung dan melahirkan diriku. Namun juga yang pergi meninggalkan diriku di atas tumpukan Koran bekas, seorang diri di rumah yang kosong. Wanita yang menghancurkan hati papa.

Entah kenapa, papa masih menyimpan foto wanita itu. Tidak sakit kah hatinya? Tidak ada dendam kah setitik pun untuk sang wanita di dalam dirinya? Entah lah. Tapi apa yang dilakukan papa mungkin telah menghancurkan teori bahwa pria itu berlogika, sedangkan wanita itu perasa. Karena jika dilihat dari foto sang wanita yang masih disimpan di dalam dompetnya, menunjukkan bahwa tidak ada logika dalam pria yang telah jatuh cinta.

CITA-CITAKU UNTUK IBU

Ketika muazin sedang bersiap untuk azan Subuh, mengetuk-ngetuk mikropon masjid, Budi sudah duduk tenang dan khusyuk di belakang sang muazin. Budi sudah rapi memakai baju kerjanya, celana olahraga abu-abu dan kaus putih polos. Dan tak lupa dia semprotkan pewangi ruangan beraroma jeruk inventaris masjid ke tubuhnya. Karena kata ustad, untuk bertemu Sang Maha Punya Segalanya kita harus rapi, bersih dan wangi. Budi mengingat kata-kata itu dan mengamalkannya.

Setelah solat Subuh selesai dan berdoa untuk memulai hari, Budi bergegas menuju ke sepeda yang dia sandarkan di gerbang masjid. Mengayuh dengan cepat, semangat dan penuh tenaga menuju rumah Sang Pemberi Gaji, Koh Along.

Sesampainya di rumah Koh Along, Budi meneriakkan salam sambil tersenyum kepada Koh Along. Koh Along hanya menunjukkan muka datar dan menunjuk ke tumpukan Koran di salah satu sudut rumahnya. Yang artinya, itu adalah jatah yang sudah disiapkan Koh Along untuk Budi antarkan ke rumah-rumah yang masih berlanggan media cetak di jaman serba elektronik ini. Entah apakah Koran itu untuk dibaca atau hanya untuk memukul kecoa yang tiba-tiba muncul dari bawah kursi.

Budi dengan sigap memasukkan Koran-koran tersebut ke tas Koran yang berada di dua sisi samping sepedanya. Dua sisi, dua komplek perumahan yang berbeda. Sudah tak perlu lagi dia melihat alamat pelanggan, dia sudah hapal di luar kepala. Setelah selesai dengan memasukkan Koran-koran tersebut, Budi pamit kepada Koh Along. “hmmm..” begitu jawab Koh Along.

Begitulah komunikasi Koh Along dengan Budi. Terlihat seperti sinis dan sombong, tapi sebenarnya Koh Along adalah orang yang baik. Beberapa kali Budi selalu mendapat gaji lebih di amplop-nya. Dia tak pernah tahu kenapa, karena Koh Along tidak pernah bicara dan menjelaskannya. Budi tetap menerimanya, dan beranggapan mungkin bonus yang dia dapatkan itu karena dia paling rajin dan paling pagi datang ke kantor dibandingkan pegawai lainnya.

Koh Along mendadak menjadi pendiam, malas bicara karena banyak orang yang sudah tidak mau lagi berlangganan Koran. Karena jaman ini semuanya sudah digital, pelanggannya pun beralih mengikuti jaman. Orang-orang yang masih berlangganan Koran di jaman ini memang patut diacungkan ibu jari, mereka masih memegang esensi membaca dengan mendengarkan suara kertas yang bergesekan, aroma kertas yang tak akan bisa digantikan oleh bau keringat ibu jari di telepon genggam..

Budi masih mengayuh sepedanya dengan semangat, mengantarkan Koran-koran itu satu-persatu ke rumah-rumah. Di suatu persimpangan komplek rumah, Budi berhenti dan memarkirkan sepedanya. Dia pun duduk di pinggiran trotoar sambil menusukkan sedotan kecil ke air mineral ukuran gelas yang tadi dia beli di warung dekat situ.

Dihisapnya air minum tersebut pelan-pelan, Budi sedang menunggu sesuatu. Tatapan Budi selalu ke rumah yang ada di depannya. Rumah bergaya tempo dulu, yang sering kalian lihat di film tahun 90-an. Garasi yang terbuka memamerkan dua mobil mewah, satu berjenis sedan dan yang satu lagi mobil yang berukuran sangat besar dan tinggi. Di  lantai dua ada balkon kecil dengan tanaman hias yang digantung. Budi selalu tersenyum melihat rumah itu ketika bayangan bahwa dia dan Ibunya tinggal di rumah itu muncul.

Gerbang rumah didorong oleh bapak-bapak setengah tua. Tak lama kemudian, pintu rumah pun terbuka. Seorang anak muda keluar mendorong motor gede produksi Inggris, dan menghidupkannya. Suara motor tersebut meraung-raung dengan halus. Dibersihkannya helm berwarna silver krom. Keren dan gagah sekali orang itu di mata Budi.

Bapak-bapak tua yang mendorong gerbang rumah menghidupkan mobil sedan dan membuka pintu belakang. Tak lama kemudian, bapak-bapak yang tidak terlalu tua, berdasi abu-abu dengan garis diagonal yang sangat simetris masuk ke kursi belakang mobil sedan tersebut. Sepertinya dasi itu dibuat oleh matematikawan yang sangat mengerti seni.

Seorang wanita yang sudah cukup berumur namun tetap cantik dan menawan di umurnya sedang berdiri di depan pintu sambil melambai kepada anak muda dan bapak-bapak tadi. Mulutnya sedang komat-kamit kepada mereka, lalu ditutup dengan senyum manis di wajahnya. Anak muda dan bapak-bapak tadi telah keluar dari garasi, lalu menghilang di tikungan ujung jalan komplek tersebut. Wanita tersebut pun masuk ke dalam rumah kembali, menutup pintu.

Budi berdiri dari duduknya, membuang plastik penutup air mineralnya. Gelas plastik bekas air minumnya ditaruh di sela-sela ban dan jok-nya. “reeeekkk…reeeekkk…..” suara gelas plastik yang beradu dengan ban Budi ketika dikayuh. Memang sengaja dilakukan oleh Budi agar sepedanya terdengar seperti motor gede tadi, jauh panggang dari api. Budi pun mengayuh sepedanya dengan elegan, meniru anak muda membawa motor gede tadi.

Jika orang kantoran punya ritual untuk minum kopi di tengah jam kerja untuk mengulur waktu, maka ini adalah ritual yang selalu dilakukan Budi, berkhayal tinggal di rumah yang besar dan bagus.

≠≠≠≠≠≠

Sudah menjadi kebiasaan Budi untuk mengaji setelah sholat Magrib. Dulu dia melakukan itu secara terpaksa, karena jika tidak mengaji maka almarhum Ayah-nya tak akan segan untuk menyeret dia ke masjid untuk mengaji bersama pak Ustaz. Namun sebelum itu, akan dipecutkan sabuk kulit panjangnya ke pantat Budi. Setelah menyeret Budi ke masjid, almarhum Ayah Budi akan duduk di belakang menunggu Budi selesai mengaji. Alah bisa karena terbiasa.

“Jika bukan kamu yang mengaji, siapa yang akan mengaji untuk kami, Bapak dan Ibu mu nanti jika sudah di akhirat?”. Begitu lah pesan setiap almarhum Ayah-nya marah ketika Budi tidak mau mengaji.

Sepeninggalan Ayah-nya, Budi menyadari betul dan memaknai arti pesan dari almarhum Ayah-nya. Jika kalian saat ini bersama Budi, duduk di sampingnya, mengaji bersama, maka kalian akan mendengarkan suaranya yang lirih, merindu dan mengadu. Siapa saja akan berhenti melakukan pekerjaannya untuk mendengarkan suara mengaji Budi, karena mereka tahu ada hati yang dilibatkan dalam setiap untaian ayat yang dibacanya.

≠≠≠≠≠≠

Selepas mengaji, Budi pulang ke rumah. Ibunya terlihat sedang menjahit di mesin jahit hadiah pernikahan dari almarhum Ayah-nya di tahun ke-10. Budi mencium tangan Ibu-nya, lalu menariknya ke kursi yang cuma ada satu-satunya di rumah itu. Kursi yang biasa diduduki oleh almarhum Ayah-nya. Budi menyebut itu adalah kursi raja.

“Sini dulu bu..”

Ibu Budi mengikuti kemauan anaknya dengan mengernyitkan dahinya, keheranan.

Budi lalu bercerita tentang ritual yang dilakukannya setiap pagi di tengah-tengah kesibukannya mengirim Koran. Dengan semangat yang tinggi dan gerak tubuh yang luwes, Budi menggambarkan apa yang selalu dia lihat. Ibu Budi masih mengernyitkan dahi-nya.

Setelah selesai bercerita tentang semua detil yang dia lihat, mulai dari rumah, bapak-bapak yang memakai dasi, anak muda yang membawa motor keren dan seorang wanita tua yang cantik dan menawan, Budi pun mendekat ke Ibunya, lalu Budi pun memeluk Ibunya.

Sambil berbisik pelan..

“Ibu.. hiduplah lebih panjang hingga aku bisa mewujudkan cita-citaku untuk Ibu, tinggal di rumah yang, besar, bagus dan indah. Sehat selalu ya bu.. supaya Ibu bisa menikmati cita-citaku untuk membahagiakan Ibu. Bu.. selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan sehat selalu.”

Kemudian, Budi pun mencium pipi dan kening Ibunya. Sang Ibu menahan haru, bibirnya bergetar. Di dalam hatinya mengucapkan “Aamiin”.

Di saat yang bersamaan, di luar sana langit gelap dipenuhi oleh bintang, bulan bulat penuh sedang memamerkan dirinya. Dan bintang pun jatuh, meninggalkan posisinya, menghilang untuk satu impian, satu cita-cita.

AYAM ATAU TELUR?

Ayam atau telur..?

Manakah yang lebih dulu ada..?

Ada yang beranggapan tanpa telur, tidak akan ada ayam

Tapi, darimana ada telur jika tak ada ayam?

Cinta atau Tuhan?

Jika Tuhan yang menciptakan cinta, apa kah berarti Tuhan sebelumnya tidak punya cinta?

Mana mungkin, Tuhan kan penuh cinta di dalam dirinya

Ya kan? bukan begitu?

Tapi jika cinta sudah ada di dalam diri Tuhan, siapakah penciptanya?

Apakah ada “Maha Tuhan” yang menciptakan “Tuhan” yang penuh cinta?

Pertanyaan pun akan berlanjut dan berputar terus hingga bang Toyib pulang ke rumah

Entah kapan..

Sering kali kita dihadapkan pilihan untuk memilih cinta atau Tuhan yang akan kita dahulukan

Dilematis..

Jika kau tak memilih Tuhan, maka cap kafir akan ada di kepala-mu

Pandangan yang tertuju pada-mu penuh dengan rasa jijik dan hina

“Cinta buta” begitulah sebutannya

Cinta membutakan-mu dari Tuhan, begitu kata mereka..

Namun, jikalau diriku ini boleh bertanya

“Jika bukan cinta yang menyatukan kita, lalu apalagi?”

 

 

RANJANG

Ranjang kamarku adalah tempat pelarianku

Bukan pantai atau pun gunung

Jika harus ku berlari ke pantai atau pun gunung

Aku akan selalu merindukan ranjangku

Ranjangku adalah tempat ku berkeluh kesah tanpa berkata

Ranjangku akan selalu menerima diriku lebar-lebar

Menerima berat badan dan masalahku

Selalu akan ada guling yang bisa kupeluk tanpa memberontak sedikit pun

Akan selalu ada selimut yang menghangatkanku

Akan selalu ada bantal yang siap dibasahi dengan air mataku

Karena tidur adalah cara terbaik untuk melupakan masalah kita sejenak

Bukan begitu?

Tidak seperti dirimu yang selalu memaksaku untuk bercerita setiap masalahku

Padahal, mendengar saja kau pun tidak

Tidak sulit untuk memilih kepada siapa aku harus berkeluh kesah

Tentu, aku memilih ranjangku

Namun, suatu hari kau akan masuk ke kehidupanku

Berbagi ranjang, berbagi masalah

Sungguh tak enak hatiku, jika ranjangku harus menyerap masalah dari dua orang

Bertambah lagi beban ranjangku, sungguh kasihan ku kepadanya

Akankah ranjangku sanggup menerima beban masalah dari dua orang?

Masih sanggupkah ia memberi kehangatan?

Apakah aku siap berbagi ranjang denganmu?

ONE LOVE

Angin bertiup lumayan kencang pagi itu, diiringi rintik gerimis yang turun dari awan gelap. Calon bunga melati yang nantinya akan menghiasi pekarangan rumah dengan warna putih sucinya berguguran diterpa angin. Bunga pohon mangga berterbangan di udara, membuat suasana seperti di Eropa ketika salju turun.

Aries sedang duduk di beranda sambil menikmati pisang goreng dan segelas teh manis hangat. Aries membiarkan asap panas dari pisang goreng mengisi seluruh rongga mulutnya, dikunyah pelan-pelan. Dinikmatinya setiap teguk teh manis ketika melewati tenggorokan. Terputar lagu Perancis kuno La Vie en Rose, salah satu dari kumpulan lagu hits romantis yang dia kumpulkan dalam satu kaset. Pagi yang dingin, sendu nan romantis.

Suasana pagi itu mengingatkan Aries dengan salah satu momen lampau di hidupnya. Momen yang indah dengan Indah, sang kekasih pujaan hatinya.

Suatu hari mereka terjebak hujan deras ketika ingin pergi ke bioskop, hendak menonton film drama yang sedang digemari kala itu. Mereka meneduh di gerobak angkringan kecil di pinggir jalan. Mereka berdua sudah basah kuyup, tempat berteduh mereka pun tidak melindungi mereka dari hujan seutuhnya, karena hujan sangatlah deras disertai angin kencang.

Aries terus menerus menggaruk kepalanya karena gatal. Gatalnya disebabkan minyak rambut murahan yang dia beli di pasar Jumat, yang telah cair karena hujan. Jambulnya pun tidak lagi kokoh menantang dunia.

Bedak Indah luntur terkena air hujan, bedak yang dia beli di warung Mak Jum. Gincunya pun pudar dan telah melenceng hingga ke pipi ketika dia mengusap air hujan yang mengenai mukanya. Dihapus seluruh dandanannya yang telah susah payah dia poles selama 30 menit ketika menunggu Aries sang kekasih menjemputnya.

“kau tetap indah, ndah..” bisik Aries.

Indah hanya membalas dengan senyum.

Aries menangkap kesedihan Indah. Aries berjanji kepada dirinya sendiri, suatu saat akan dia belikan alat make-up yang mahal, tahan hingga 5 iklim untuk Indah.

Di tahun itu bagi para muda-mudi yang sedang memadu kasih pasti akan membuat panggilan sayang untuk pacarnya masing-masing. Ndut, panggilan jika pacar mereka gendut. Mbem, jika pacar mereka kelebihan daging di pipinya. Beb, sedikit plesetan dari baby bagi mereka yang kiblatnya ke barat. Abi dan Umi, bagi mereka yang ingin menjalankan pacaran syariah. Namun bagi Aries dan Indah, memanggil nama pujaan hati mereka sudah lebih dari cukup.

Ketika malam hari, ketika Aries tidak dapat bertemu dengan Indah, tubuhnya gemetar, jantungnya berdegup kencang, kepalanya berdenyut, agak menyakitkan. Walau menyakitkan, tak jarang Aries menahan rasa tersebut agak lama, karena ketika nama Indah terlepas dari bibirnya, tubuh Aries seperti melepaskan zat racun yang kemudian menguap di udara menjadi serpihan-serpihan berwarna emas. Semakin lama ia menahan rasa tersebut, semakin banyak serpihan emas tersebut. Dan fenomena itu akan terus berulang hingga Aries bisa bertemu Indah. Begitulah rasa rindu, kawan.

Pertemuan pertama kali Aries dan Indah terjadi di dalam bus kota, sore hari dalam perjalanan pulang setelah sekolah. Di tengah perjalanan bus kota, seorang pengamen naik ke bus kota  yang mereka berdua tumpangi. Pengamen ini tidaklah bersuara emas, perunggu pun tidak. Pengamen ini mengandalkan suaranya yang keras dan tato di tangannya untuk mendapatkan sumbangan dari orang-orang di dalam bus kota tersebut.

Pengamen itu berjalan dari depan bus kota sambil menyodorkan bungkus plastik bekas keripik ke para penumpang. Mungkin karena frustasi belum mendapatkan uang yang banyak hari itu, pengamen mencurahkan isi hatinya kepada salah satu penumpang, dan penumpang itu adalah Indah. Hanya saja pengamen itu tidaklah baik dalam hal bercerita. Dia malah menggoda Indah dan memaksanya untuk memberikan uang. Indah bereaksi dengan memeluk erat tasnya dan memalingkan pandangnya ke arah jalanan, menembus jendela bus kota.

“tak perlu lah kau menggoda dan mengganggu nona ini..” kata Aries sambil berdiri mendekati pengamen tersebut.

Indah mendengar jelas apa yang dikatakan seorang pria tersebut, namun dia masih tidak berani untuk menengok. Dia hanya dapat melirik ke arah tempat pengamen dan pria itu berdiri. Yang dapat dia lihat jelas hanyalah baju warna putih, celana panjang abu-abu dan tas coklat selempang yang sudah buluk. Pria ini sudah pasti masih SMA, pikir Indah.

“apa kau bilang cil..?” pengamen itu memanggil Aries dengan sebutan cil karena tubuhnya yang kecil.

“saya ulangi, tak perlu lah kau menggoda dan mengganggu nona ini..” diulangi dengan pelan oleh Aries.

“berani sekali kau maju dan berdiri di depanku sambil berkata seperti itu” kata pengamen tersebut sambil menarik kerah baju Aries. Tubuh Aries melengkung, persis seperti kucing yang hendak dilempar ke jalan.

Indah memejamkan matanya kembali, ketakutan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“kalau kau memukul ku, kau tak akan mendapatkan uang. Malah kau akan menghabiskan uang yang lebih banyak, lihat sekelilingmu bang..”

Pengamen memutarkan kepalanya tiga ratus enam puluh derajat, melihat sekelilingnya sudah banyak orang-orang yang berdiri dan melingkari mereka berdua. Sadar apa yang dikatakan bocah kecil di depannya adalah benar, maka dia memutuskan untuk turun dari bus kota tersebut.

“neng, baik-baik aja kan?” seorang pria bertanya sambil mencolek lengan Indah.

Indah kaget, matanya melotot, menyadari kernet bus kota tersebut bertanya pada dirinya. Indah hanya menggangguk tanpa suara. Indah lalu berdiri sambil celingak-celinguk, yang ia cari adalah anak SMA tadi. Tak ditemukannya anak SMA tersebut di dalam bus kota. Dia pun melihat jalan di belakangnya, jalan yang sudah ditinggali bus kota tersebut. Yang ia lihat hanya punggung anak SMA itu dan tas selempang coklat buluknya. Bus kota berjalan semakin jauh, dan pria itu semakin lama hanya menjadi bayangan. Siapakah dirimu yang membelaku? Tanya Indah dalam hatinya. Beberapa hari setelah kejadian sore hari itu pertanyaan Indah akan terjawab.

Senin pagi ketika para siswa-siswi sudah siap berbaris untuk upacara pagi, Aries seperti biasanya terlambat sampai sekolah. Itu dikarenakan dia harus mengantarkan koran-koran ke rumah-rumah di sepanjang perjalanan dari rumahnya ke sekolah.

Indah sudah berdiri rapi di dalam barisan kelasnya. Di tengah acara upacara tersebut, perhatian siswa-siswi diganggu oleh pemandangan segerombolan para pelajar yang telat dan digiring oleh guru ketertiban menuju lapangan dan dibariskan dalam barisan khusus. Indah melihat tas selempang coklat buluk di antara gerombolan pelajar yang terlambat itu. Warna tas coklat buluk yang persis dia lihat di bus kota beberapa hari lalu. Indah maju ke barisan depan, mencoba melihat pria yang memakai tas selempang coklat buluk itu, tapi dia hanya dapat melihat wajah samping pria itu.

Indah tak sabar menunggu upacara selesai. Indah ingin melihat wajah pria itu, pria yang telah membelanya di bus kota beberapa hari lalu. Selepas upacara berakhir, Indah langsung berlari kecil melawan arus pelajar lain, menuju pria itu. Dicegatnya pria itu ketika ingin masuk kelas. Indah melihat tas coklat buluk yang dipakai oleh pria itu dari dekat. Tak salah lagi, buluknya sama seperti yang ia lihat di bus kota.

“kau kah yang membelaku di bus kota tempo hari?” Indah menatap tajam bola mata pria tersebut.

“be…be..benar” jawab Aries terbata-bata.

Tak diduganya, wanita yang beraroma stroberi segar yang lewat di depan tempat duduknya ketika di bus kota beberapa hari lalu sekarang berdiri di depan dirinya, mengiterogasi dirinya.

Aries jatuh cinta karena aroma tubuh Indah, sedangkan Indah jatuh cinta karena aksi heroik Aries. Mereka jatuh cinta seperti di film superhero.

Bagi Aries, jatuh cinta terhadap Indah adalah candu. Tak ada obatnya untuk candu yang satu ini, kawan. Dan Aries pun tidak ingin mencari obatnya.

Hujan dan angin sudah berhenti. Teh manis dan pisang goreng sudah habis di meja. Aries menikmati bau tanah basah, dihirupnya dalam-dalam. Suasana selepas hujan memang membuat damai.

Aries berdiri meninggalkan tempat duduknya. Dipetiknya satu tangkai bunga melati yang sudah mekar dan masih ada bulir air hujan di atasnya. Dia taruh di saku baju depannya. Bunga melati, bunga kesayangan Indah.

Aries berjalan ke depan rumahnya, dilihatnya kursi kayu berwarna hijau yang tadi ia duduki. Kursi kayu itu adalah sebuah janji Aries kepada Indah. Janji yang dia ucapkan sewaktu kuliah. Sebuah janji implisit untuk menikahi Indah.

“Suatu hari aku akan membeli sepasang kursi. Kau yang duduk di sampingku. Kita akan bercerita tak kenal waktu sambil menikmati teh manis yang kau buat dengan cinta”.

Hari ini tepat 60 tahun setelah tatap muka mereka berdua setelah upacara tersebut, saling mengenal dan saling mencinta. Aries merayakannya dengan menaruh setangkai bunga melati di atas ubin makam Indah. Mengucapkan syukur terima kasih kepada Tuhan dan menitipkan salam cinta kepada Indah melalui doa.

Rayakan kedatangan seseorang ke dalam hidupmu dengan sukacita. Dan jika dia pergi meninggalkanmu untuk bertemu dengan sang khalik, rayakanlah dengan hati ikhlas.

RED DOOR

Bayu sedang berusaha keras untuk mengatur tasnya agar dapat digendong di badannya. Tas ransel besar ada di punggungnya, berisikan pakaian yang seharusnya hanya untuk satu malam saja, namun isinya bisa dia bagi ke beberapa anak yatim. Tas kamera selempang yang berisikan lensa, hampir semua jenis lensa ada di dalamnya. Tas pinggang yang dia kaitkan di pinggang kurusnya, isinya adalah semua benda ukuran kecil yang sifatnya penting dalam keadaan darurat dan dapat dijangkau jika keadaan darurat itu datang. Belum sampai situ, Bayu memakai celana kargo yang kantungnya banyak, isinya? Hanya Tuhan dan Bayu yang tahu. Jika posisi Bayu sedang duduk di pinggir jalan dan dilihat dari belakang, maka ia terlihat seperti tas yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Dan janganlah kalian coba untuk mengangkatnya, karena hanya dengan semangat tinggi tas itu dapat diangkat.

Ini adalah pertama kali Bayu pergi ke Pulau Dewata. Pertama kali juga Bayu meninggalkan kotanya, hanya demi bintang-bintang. Ya, Bayu memang terobsesi dengan susunan bintang di malam hari. Tidak hanya karena keindahannya, namun misteri di dalamnya. Bayu juga salah satu orang yang percaya bahwa Alien itu ada. Hingga saat ini ia sangat berharap dapat menjadi salah satu orang yang beruntung yang dikunjungi oleh Alien. Baginya itu adalah kejaiban, mukijzat. Bahkan jika itu sampai terjadi maka akan dia kategorikan hari tebaik yang pernah ia alami. Jika kalian punya salah satu teman seperti Bayu, bersenang hati lah kalian, karena kalian akan takjub dengan semua bukti sains yang dia paparkan seperti ilmuwan, lalu cerita yang seperti fiksi namun tak masuk akal.

Dari bandara Bayu menuju ke selatan pulau Bali dengan mobil yang telah dia sewa . Baru keluar dari area bandara, Bayu menyadari bahwa dia belum tahu tujuan kemana perginya. Yang ia tahu ia harus ke arah selatan, itu saja. Karena berdasarkan yang dia baca, daerah selatan pulau Bali adalah salah satu tempat yang pernah dikunjungi oleh Alien. Dilihat map dari handphone-nya, dilihat dengan teliti tempat apa yang bisa ia kunjungi sebelum malam tiba. Pilihannya pun jatuh untuk pergi ke salah satu kafe di sana.

Bayu memarkir mobilnya di satu-satunya lahan parikir yang tersisa. Pintu kayu yang berwarna merah terang menjadi daya tarik kafe tersebut. Ketika Bayu masuk ke dalam kafe tersebut, terperangah dia sejenak mengagumi dekorasi kafe tersebut, kepalanya bergerak memutar dari atas ke bawah, kanan ke kiri mengikuti rotasi bumi.

Di tengah kafe tersebut ada bola berukuran besar seperti sebuah planet atau meteor, aku tak tahu ini bukan bidangku. Di seluruh dinding kafe terdapat wallpaper bintang. Dan kalau kalian jeli melihatnya, ada beberapa kepala alien yang bersembunyi bersama UFO di balik bintang-bintang. Ada juga beberapa kutipan dari peneliti keberadaan alien, NASA dan kutipan dari orang-orang biasa yang sepertinya merasa pernah dikunjungi oleh alien. Aku rasa si pemilik kafe sama gilanya dengan Bayu.

Dipilihnya salah satu meja di kafe tersebut yang hanya terdapat 2 kursi yang saling berhadapan. Tanpa perlu melihat daftar menu dia pesan kopi panas dan asbak. Diseruput nikmatnya kopi panas tersebut dan dihempaskan asap rokok ke langit-langit. Di tengah-tengah kenikmatan gabungan antara atmosfir kafe dan kopinya, tiba-tiba suara piring pecah menggelegar di tengah ruangan. Dilihatnya, seorang pramusaji wanita yang berdiri terpatung di antara pecahan beling. Tidak lama kemudian wanita itu memungut pecahan beling yang berserakan, namun karena kurang hati-hati tangannya tergores oleh salah satu pecahan beling yang besar. Darah pun mengalir dari telapak tangannya. Seorang pria berpakaian jas lengkap datang menghampiri sambil berteriak memanggil beberapa pramusaji pria yang sama seperti yang lain sedang tercenung diam melihat apa yang sedang terjadi. Pria berjas itu menyuruh pramusaji wanita itu untuk ke belakang dapur mengobati luka di tangannya. Wanita itu berlari kecil sambil terisak menahan tangis dan perih.

Bayu sadar bahwa dia harus keluar dari kafe tersebut karena matahari akan tenggelam sebentar lagi. Setelah diseruput kopi yang tersisa di cangkir dan mematikan api rokoknya, Bayu bergegas keluar dari kafe tersebut. Saat sedang menuju ke mobil, dia melihat pramusaji wanita tadi. Tangannya dibelit perban putih dan dia sedang duduk di depan pintu samping kafe tersebut. Disampiri wanita itu oleh Bayu, ditanya apakah dia baik-baik saja. Wanita itu melihat Bayu dengan tatapan kosong dengan bibirnya sedikit terbuka. Sedikit kaget Bayu saat itu, karena wanita itu ternyata cantik dan walau tatapannya kosong, wanita itu menggemaskan seperti seekor kucing yang sedang memelas untuk diusap-usap bulunya.

Ditanya kembali apakah dia penduduk sekitar, wanita itu mengangguk sambil masih sedikit bibirnya terbuka. Bayu mendapat ide, mungkin wanita ini bisa dijadikan penunjuk jalan. Bayu bertanya apakah dia tahu ada bukit yang tinggi hingga bisa melihat bintang dengan jelas. Waita itu mengangguk kembali. Bayu meminta wanita itu untuk mengantarnya ke bukit tersebut, wanita itu mengangguk lagi.

Lima belas menit keadaan yang sedikit canggung dan hening di dalam mobil. Wanita itu hanya menunjukkan jalan dengan tangan dan anggukan kepalanya. Kemudian tiba-tiba wanita itu seperti kerasukan roh halus, sedikit berteriak dan memukul dasbor mobil lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kemudian dia mulai berbicara, mengatakan betapa kesalnya dia terhadap dirinya yang selalu ceroboh. Bayu pun mengetahui kisah wanita itu sudah berpindah 7 tempat kerja dalam 3 hari. Tercengang Bayu mendengar kisah wanita tersebut yang akhirnya diketahui namanya adalah Kadek.

Selama perjalanan Kadek terus bercerita kisah kenapa dia bisa berpindah 7 tempat kerja dalam 3 hari. Mulai dari cerobohnya dia membuat benjol di kepala anak kecil yang hendak masuk ke restoran tempat ia bekerja. Saat itu dia menjadi penerima tamu di restoran. Dilihatnya seorang ibu yang berjalan di luar hendak menuju restorannya. Dengan semangat dia membuka pintu dengan kencang dengan maksud mempersilakan ibu itu untuk masuk. Namun, yang dia tidak tahu ibu itu membawa anak kecil yang tingginya tidak kelihatan di balik pintu. Anak itu kepalanya terjeduk pintu lalu jatuh dan tak lama kemudian menangis kencang. Di kepala anak tersebut kemudian muncul benjolan sebesar buah jambu monyet. Si ibu tentu langsung marah kepada Kadek. Ibu itu tidak jadi makan di restoran, dan Kadek pun dipecat saat itu juga.

Setelah Kadek menyelesaikan cerita ke-tujuhnya, saat itu juga mereka sampai di bukit yang dituju. Matahari sudah balik ke peraduannya, bintang-bintang pun muncul sebagian, sisanya masih belum datang. Kali ini giliran Kadek bertanya tentang kenapa Bayu ingin ke bukit dan melihat bintang-bintang. Bayu pun tersenyum lebar, dia menarik nafas dalam-dalam dan siap untuk menceritakan semuanya dengan semangat. Bayu membuka ceritanya dengan landasan dasar ilmu perbintangan, kutipan-kutipan dari para ilmuwan dan ditutup dengan konflik yang muncul di masyarakat tentang alien. Kadek mendengar semuanya dari awal hingga akhir dan tak ada satupun yang ia mengerti. Namun dia terpana ketika Bayu menjelaskan semuanya itu dengan gerak tubuhnya yang lucu, suara UFO yang dia buat, dan entah kenapa dia melihat bintang di mata Bayu ketika mereka bertatapan.

Bayu mengeluarkan kameranya. Ada yang dipakai untuk merekam dan ada yang untuk mengambil foto bintang. Dia bilang, bahwa pasti ada UFO di tengah-tengah bintang-bintang tersebut. UFO yang di dalamnya satu klan alien yang sedang mengawasi manusia di bumi. Mereka mempelajari manusia dari jauh. Namun kadang mereka akan turun menyamar menjadi manusia dan memilih salah satu dari manusia untuk dibagikan tentang pengetahuan mereka. Merekalah manusia yang terpilih, yang paling beruntung menurut Bayu.

Setelah menangkap semua foto bintang dan mendengar gurauan tentang alien, Kadek bertanya dimana Bayu akan tidur. Bayu mengaku bahwa dia belum memesan hotel untuk menginap. Kadek menawarkan untuk Bayu menginap di rumahnya. Orangtua Kadek selain berjualan makanan di pasar juga membuka kamar untuk menginap bagi para pelancong seperti Bayu. Kadek menggratiskan Bayu untuk menginap, sebagai salam perkenalan katanya. Namun sebelum ke rumah Kadek, Kadek mengajak Bayu ke suatu tempat.

Tempat yang diarahkan Kadek begitu terpencil. Masuk ke gang yang hanya dapat dilalui satu mobil saja. Diparkirnya mobil di depan rumah yang di depannya ada lampu flip-flop melingkar di pohon mangga. Rumah itu seperti rumah biasa. Di jendela banyak stiker grup band dan poster bergambar tengkorak. Rumah itu memiliki garasi, dituntunnya Bayu ke garasi tersebut. Dan ketika pintu garasi dibuka, kagetlah Bayu. Musik keras menggelegar sekencang-kencangnya, Bayu hingga menutup telinga takut gendang telinganya pecah. Di dalam garasi ada grup band yang sedang menyanyi dan banyak pria yang entah bisa disebut sedang menari atau kesurupan di depannya. Panas, banyak asap rokok dan ada botol bir yang bertumpuk di sudut ruangan. Kadek menyapa beberapa temannya, dan jika dilihat lebih teliti sepertinya Kadek adalah ratu bagi para pria di dalam garasi tersebut. Usut punya usut ternyata Kadek merupakan vokalis band hardcore punk yang disegani oleh para pemuja aliran tersebut. Tak terbayangkan suara imutnya Kadek ketika ngobrol tadi ternyata bisa mengeluarkan suara seperti auman singa.

Kadek pun bercerita bahwa hardcore punk adalah sisi hidupnya yang lain. Cara pilihan hidup yang ia pilih di antara banyaknya cara hidup yang ditawarkan di dunia ini. Tidak hanya musik tapi filosofi dan prinsip hidup hardcore punk yang membuat Kadek masuk ke dalam dunia tersebut. Cara hidup alternatif dari cara hidup keluarganya yang Hindu. Memang sulit untuk mendengar semua cerita dan ocehan tentang hidupnya Kadek di tengah berisiknya ruangan tersebut, tapi Bayu melihat Kadek unik dan penuh misteri sebagai seorang wanita, seperti alien.

Rumah Kadek terlihat kecil dari luar gerbang. Tapi ternyata ketika kita masuk, kalian akan terkejut betapa luas di dalamnya. Rumah utama yang terletak di depan, ditinggali Kadek dan keluarganya. Menelusuri ruang tamu, ruang keluarga lalu ruang makan yang ada pintu kaca besar yang bisa digeser. Di balik pintu kaca besar tersebut ada halaman yang cukup luas dan disampingnya ada kamar-kamar. Kamar-kamar itulah yang keluarganya sewakan. Kalau bisa kugambarkan dengan singkat, rumah Kadek hampir serupa seperti rumah Jepang di film-film. Diantarnya Bayu ke salah satu kamar yang masih kosong. Lantainya dilapisi karpet lembut berwarna abu-abu. Kasurnya tidak ada dipannya, langsung tergeletak di atas karpet. Di samping Kasur ada meja kecil yang sekaligus laci tempat penyimpanan dan ada lampu baca di atasnya Dinding kamarnya berwarna coklat dan dipasang lampu warna kuning temaram. Tempat yang bagus untuk mengistirahatkan jiwa dan raga.

Setelah mandi dengan air hangat, Bayu kembali ke kamarnya. Dia mengecek kembali foto-foto bintang yang telah ia tangkap tadi. Entah halusinasi atau kah karena lelah, foto bintang yang dia lihat membentuk wajah Kadek. Rasi bintang Kadek? Entahlah. Bayu tertawa kecil ketika harus mengingat awal pertemuannya dengan Kadek. Wajah yang dilengkapi senyuman yang menggemaskan. Suara imutnya, yang bisa berubah menjadi auman singa. Jalan pikirannya yang aneh, cara hidupnya yang unik. Pertama kali ke Bali dan dia sudah diberikan banyak kejutan dalam 1 hari. Ditepuk-tepuknya bantal agar dapat menopang kepalanya dengan nyaman. Sebelum terlelap, Bayu tersenyum simpul sambil berucap pelan menyebut nama Kadek.

Tanpa alarm dari handphone-nya atau bahkan tanpa dipukul Ibu di pantatnya, Bayu bangun pagi sekali hari itu. Lebih pagi dari biasanya. Dibuka pintu kamarnya, dilihatnya ada makanan yang ditutup oleh tudung saji. Hanya di depan kamarnya saja yang ia lihat ada makanannya, di depan kamar lain tidak ada. Bayu memincingkan matanya ke arah tengah taman, ada wanita sedang duduk bersila sambil merapatkan kedua tangan di depan dadanya. Salah satu tangannya diperban putih. Wanita itu tak lain dan pasti Kadek Kadek memakai baju gombrong khas bali yang dipadu-padankan dengan celana yoga hitam. Rambutnya diikat kuda, matanya tertutup dan bibirnya terlihat sedang membuang nafas. Bayu menikmati paginya dengan indah, sarapan yang lezat dan wanita yang datang di mimpinya.

Tak lama Kadek pun mengakhiri Yoga-nya. Dan sedikit terkejut dia melihat Bayu sedang memperhatikan dirinya sambil menguyah sarapannya. Kedua mata mereka bertemu, Bayu menyunggingkan senyumnya lebar-lebar hingga terlihat ada cabai yang terselip di sela giginya. Kadek membalas dengan senyum manis. Yang tak diketahui Kadek, degup jantung Bayu menjadi kencang namun berirama lagu India. Diceritakannya ke Kadek bahwa dia harus terbang kembali ke kotanya jam sembilan nanti. Kadek menawarkan diri untuk mengantarnya. Tak ayal Bayu pun kegirangan di dalam hatinya.

Di tengah perjalanan ke bandara tak banyak topik yang mereka bicarakan. Ini karena Bayu sedang senang namun sedih sekali karena dia sadar bahwa dia tak tahu kapan dia akan bertemu kembali dengan Kadek. Sesampainya mereka di Bandara obrolan mereka makin canggung. Gerak tubuh mereka berdua kaku. Dan ketika Bayu harus masuk ke ruang tunggu, mereka berdua terdiam membisu. Bayu hanya dapat menggaruk kepalanya sedangkan Kadek hanya melihat lantai di bawah kakinya, mungkin sedang mencari semut untuk diajak bicara. Bayu memanggil Kadek pelan, dan kepala Kadek yang sedari tadi tertunduk secara perlahan terangkat hingga melihat wajah Bayu yang kebingungan. Bayu membuka tangannya lebar-lebar, tak ada kata-kata yang terucap. Mereka berpelukan. Bayu menghisap aroma wangi tubuh Kadek dalam-dalam. Tak lama kemudian, Kadek melambaikan tangannya dan berjalan mundur perlahan, membalikkan badannya dan menghilang di antara kereta barang.

Bayu sesekali melihat tiket yang dipegang erat kedua tangannya kemudian papan yang mencantumkan jadwal keberangkatan pesawat. Bayu kembali berhalusinasi, apa yang dia lihat dan dengar semuanya menjadi Kadek. Suara pengumuman yang keluar dari TOA yang ia dengar adalah kata Kadek. Entah bumbu apa yang dimasukkan ke dalam sarapan tadi. Bayu mendadak pusing. Dilihatnya pintu kaca bertuliskan “KELUAR/EXIT” beberapa detik. Tiba-tiba dia berdiri dan melangkah menuju pintu tersebut.

Sekarang Bayu berdiri kembali di depan pintu berwarna merah itu. Kemarin dia membuka pintu itu tanpa ragu, sekarang kakinya sulit untuk digerakkan. Hanya beberapa langkah untuk menuju pintu itu, untuk memegang gagangnya dan membukanya. Bayu memejamkan matanya, dan membaca bismillah di dalam hatinya. Dibuka kembali matanya dan dilangkahkan kakinya mendekat ke pintu merah itu. Dibukanya pintu merah itu, ramai sekali kafe saat itu. Bayu berteriak memanggil Kadek. Semua yang di dalam kafe kaget dan melihat cowok kurus tinggi dengan banyak sekali tas di badannya dengan terheran-heran. Kadek saat itu hendak ingin mengantarkan pesanan ke salah satu meja, dia pun kaget karena ada yang memanggilnya dengan keras. Bukan suara bosnya, tapi suara yang baru kemarin dia dengar. Suara yang ia kagumi dan rindukan sebelum tertidur semalam. Bayu dan Kadek bertatap dari kejauhan. Kadek melepas baki dari tangannya dan berlari menuju Bayu, mengacuhkan pecahan piring yang berserakan. Dan akhirnya mereka pun berpelukan kembali. Tidak seperti pelukan awal mereka, ini adalah pelukan yang mereka berdua inginkan. Pelukan yang menandakan bahwa cinta mereka berbalas.

Pintu merah itu seperti black hole yang membawa Bayu ke suatu tempat yang tidak dia sangka, pengalaman baru. Pintu merah itu membawa Bayu menemukan cintanya. Mungkinkah ini adalah perjodohan Alien?

REMEMBER ME AS..

Baiquni, meninggal di umurnya 70 tahun. 5 hari setelah ulang tahunnya. Setelah merayakan ulang tahun bersama keluarga tercinta dan sahabat-sahabatnya. Pesta meriah untuk merayakan kebahagiaan selama ini yang telah dia dapat dari Tuhan. Siapa kira ternyata pesta meriah tersebut adalah cara untuk menyambut kematiannya, 5 hari setelah berulang tahun.

Umur 70 tahun, selalu jatuh cinta kepada istrinya setiap pagi dan selalu merindukannya di kala tidur malam hari. Dikaruniai dua anak, laki-laki yang akan menjadi seorang pria gagah dan perempuan yang akan menjadi seorang wanita anggun. Keluarga kecil nan bahagia.

Dalam dunia profesionalitas pun beliau telah mencapai posisi yang diidam-idamkan oleh orang-orang. Idealismenya selalu dijaga hingga akhir hayat, semua orang berhak dan mampu untuk maju. Berlandaskan itu dia membuat sebuah yayasan untuk anak muda menyalurkan segala pendapatnya, kemampuannya mulai dari yang terlihat hingga yang masih tersembunyi di bawah permukaan air.

Baiquni yang suka membaca novel dari waktu muda, akhirnya membuat beberapa karya novel semasa hidupnya. Novelnya kebanyakan bercerita dan menyindir kehidupan sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Selalu diselipkan kisah cinta romantis, dan kata-kata semangat untuk membangkitkan gelora jiwa muda, tidak hanya untuk pembacanya namun untuk dirinya sendiri.

Semasa hidupnya beliau selalu mencoba menembus batas kemampuannya. Berlatih piano dan saksofon karena kecintaannya terhadap suara merdu yang keluar dari kedua alat musik tersebut. Datang ke casting sebuah film, karena keingintahuannya dalam berakting. Dan berlatih kembali menjadi fotografer.

Remember me as a Man

Terinspirasi dari pameran seni berjudul #rememberme yang beberapa waktu lalu gue kunjungi. Iya, gue sedang asyik-asyiknya datang ke tempat penuh seni, baik yang menyajikan ataupun membahas hasil karya seni seseorang. Ini gue lakukan untuk memancing otak bagian kreatif gue yang entah dimana posisinya, maka dari itu harapan gue, gue bisa menemukan otak bagian kreatif gue dan mengolah sebuah hasil karya seni.

Blogpost kali ini gue tiru dari pameran #rememberme, dimana para pembuat seni yang ikut serta dalam pameran tersebut menuliskan cita-cita ataupun tujuan hidup mereka semasa hidup hingga menjelang kematian yang mereka idam-idamkan.

Ingin dikenang sebagai siapakah kalian? itulah pertanyaannya.

REASONS WHY YOU ARE STILL SINGLE

Tahun sudah berganti, namun teman-teman kamu masih nanya “kenapa kamu masih jomblo?” Masih banyak yang nge-bully kamu karena status jomblo kamu? Masih banyak meme yang menyindir status jomblo kamu, dan rasanya sakit di hati…? Dan kamu sendiri masih bertanya kenapa kamu masih jomblo. Well, mari kita analisa dari beribu banyak alasan kenapa kamu masih jomblo, apakah di bawah ini alasan kamu masih jomblo…?

  1. Picky

Alasan standar, klise dan kamuflase menurut gue. Tapi semua orang pantas untuk mempunyai sebuah alasan atas sesuatu. Alasan ini paling banyak dipakai karena terdengar seperti kamu memang punya alasan, dan supaya terdengar dewasa. Karena ketika alasan ini keluar kamu seperti mengontrol hidup kamu, kamu seperti memegang teguh kriteria pacar. Padahal, kamu hanya manusia biasa yang tidak bisa mengontrol diri untuk jatuh cinta dengan siapa nanti..

  1. Bored

Ada dua tipe yang memilih alasan ini, tipe pertama karena dia bosan untuk jatuh cinta dengan orang-orang yang itu-itu aja. Maksud gue, dia bego lah jatuh cinta sama orang-orang yang akhirnya nyakitin dia mulu. Orangnya sih beda, tapi sifatnya sama gitu. Jadi ujungnya ceritanya sama. Putus karena alasan sama, disakitin. Ada kata yang lebih halus kah dari bego? Kalo ada mohon koreksinya.

Tipe kedua adalah dia yang bosan dengan siklus pacaran. You know, pendekatan-pacaran-konflik-putus. Udah  gitu-gitu aja, diulang terus sampe ladang gandum dihujani coklat. Kebosanannya ini memilih dia untuk jomblo beberapa saat, karena ada beberapa yang memilih alasan ini ujungnya memilih untuk menikah langsung tanpa harus menjalani pacaran bertahun-tahun. Beberapa teman gue, memilih alasan ini untuk menikah dengan pasangannya sekarang. Terburu-buru? Well, nggak juga sih menurut gue.

  1. Player

Ini sebenernya bukan alasan kuat untuk nge- jomblo sih. Tapi ini seperti lebih ke pilihan hidupnya untuk gak berkomitmen dengan seseorang dulu. Kenapa? Karena dia merasakan betapa menyenangkan fase pendekatan daripada fase pacaran. Fase pendekatan lebih menantang adrenalin dan memicu dopamin mereka. Karena bagi mereka dunia romansa itu hanya masalah yang dipermainkan, yang mempermainkan, atau bermain bersama-sama. Kalau kalian gak ngerti tentang ketiganya, Well kalian jelas bukan tipikal ini. Kalian terlalu cupu untuk mengerti hal tersebut.. hahahaha.

  1. Asyik Sendiri

Kayaknya gak terlalu jauh ya alasan ini dengan alasan sebelumnya di atas. Tapi sebenarnya ini ada bedanya kok. Mereka yang memiliki alasan ini sebenarnya sedang sibuk dengan diri mereka sendiri, entah itu karena menurut mereka ada hal jauh lebih penting dari mikirin pacaran atau juga karena mereka sedang self development. Nah alasan itu lah yang membuat mereka terlalu asyik sendiri, bukan gak mau komitmen tapi memang mereka lagi shut down tombol untuk nyari pasangan hidup. Beberapa dari mereka percaya, tombol itu akan turn on lagi dengan otomatis entah itu oleh cupid atau jodohnya yang gak sengaja ketemu di suatu tempat. Ah.. romantis.

  1. LO JELEK, GAK BERKUALITAS, GAK MENARIK BLA BLA BLA

Ya seperti gue bilang sebelumnya, ada ribuan alasan untuk ngejomblo. Tapi alasan ke-1500 ini adalah alasan yang sebenernya lo denial gitu. Lo gamau dengerin pendapat orang tentang diri lo, lo bahkan memang gamau bertanya dan memang gamau tau. Tapi lebih parahnya dan memang utamanya adalah karena lo gamau liat diri lo sendiri. Gak perlu gue perpanjang dengan penjelasan untuk alasan ke-1500 ini. Jika memang ada cermin yang bisa jujur, bercerminlah.

THE DARK SIDE OF PLAYBOY

Blogpost kali ini bukan untuk mengungkap keburukan atau rahasia dari majalah Playboy. No, I’m not interested into it. Biarkan wikileaks yang bekerja untuk mengungkap itu semua.

Gue jamin kalian pasti tahu kenapa di adat Betawi ada seserahan roti buaya. Ya, buaya walaupun pernah dan sampai sekarang masih memiliki arti negatif akibat dari ketidakpahaman masyarakat awam, tapi buaya merupakan hewan paling setia.

Tapi tahukah kalian, kenapa majalah playboy berlambangkan kepala kelinci..? Perlu kalian tahu bahwa kelinci merupakan hewan yang memiliki nafsu/birahi tinggi untuk bercinta. Bahkan infonya kelinci jantan dapat bercinta satu hari penuh tanpa berhenti dengan kelinci betina. Dan kelinci jantan tidak perlu tahu kelinci betina tersebut tinggal di gang mana, lahir dari suku apa, ataupun agama dari kelinci betina tersebut. Jika kelinci jantan sedang bernafsu untuk bercinta pada hari ini, dan ingin bercinta satu hari penuh maka dia akan “menomprok” kelinci betina manapun yang dia temui di jalan.

Lucu ya, hewan selucu itu ternyata mempunyai birahi setinggi itu dan se’binatang’ itu. Dasar binatang!!

Pria yang berstatus atau mendapat predikat playboy merupakan pria dengan keahlian khusus, pria yang memiliki kemampuan untuk membuat lawan jenisnya tertarik dalam sekejap. Special spesies, special ability, special regiment. Rangking teratas dari semua jenis pria yang ada. Merekalah yang membuat pria baik-baik menjadi pria brengsek di mata wanita, namun tetap menjadi idola di mata pria baik-baik (nice guy) tersebut.

Setiap nice guy pasti pernah akan bermimpi bahwa mereka terlahir sebagai playboy. Bahkan setiap nice guy yang pernah nonton film seperti Realita, Cinta dan Rock n Roll pasti berharap bahwa mereka seperti Vino G Sebastian dalam film tersebut. Berandalan, tampan, sixpack dan hampir kissing with Nadine Chandrawinata.

Tapi perlu kalian tahu, diantara semua deskripsi yang kalian dapatkan tentang playboy baik itu dari film, cerpen atau cerita nyokap kalian, playboy pun merasa hampa, sepi di hatinya. Kalau di bayangan kalian malam ini para playboy sedang berciuman dengan wanita yang baru mereka kenal dari sebuah klub, percayalah ketika mereka kembali ke tempat peraduan, mereka merasa sepi, menyadari bahwa mereka tetap sendiri.

Playboy hampir tahu apa yang diinginkan oleh semua wanita. Kalau wanita selalu bilang pria itu semua sama, maka playboy pun mengatakan sebaliknya. Perumpamaannya seperti kita bikin makanan, semua sudah ada resep dasar pastinya hanya saja ada beberapa yang memang perlu ditambahkan bumbu atau dilebihkan takarannya. Tapi ingat, semua resep dasar itu selalu sama untuk setiap makanan.

Memang menyenangkan untuk selalu dapat ditemani wanita cantik kemana pun, taking selfie together, bergandengan tangan dengan wanita cantik manapun yang kita mau. It feels like world is in your control. Tapi sekali lagi, playboy selalu bilang bahwa mereka gak kesepian, but in fact they feel alone in their bed even there is a girl sleeping aside of them.

Abang gue memberikan predikat ke gue sebagai “Playboy tanpa mantan”. Gue gatau itu artinya baik atau buruk. Tapi bukankah playboy itu harusnya punya mantan..? so I guess, it’s a bad predicate. But honestly, gue gak suka sama predikat playboy tersebut (semua playboy akan bilang hal yang sama *big grin*).

Pertanyaan utuk semua playboy di luar sana, bahkan di seluruh dunia. Kapan mau berhenti merasa sepi? Gue tau asiknya bisa menggandeng wanita-wanita cantik itu tanpa sebuah hubungan, tanpa sebuah komitmen, tanpa sebuah kejelasan. Tapi tanpa itu semua, kita sama, sepi dan sendiri.